Lima Rajo yang Menguasai Ulayat Nagari Tapakis
TAPAKIS — Melihat adat istiadat di Nagari Tapakis, Kecamatan Ulakan Tapakis, Padang Pariaman tidak bisa dilepaskan dari pengaruh rajo yang 10 yang berkuasa di Ulakan, Ketaping dan Tapakis. Rajo yang 10 itu dinilai orang yang menguasai ulayat tiga nagari tersebut. Mereka berbagi wilayah kekuasaan. Yang paling besar diantara tiga nagari itu, adalah Nagari Tapakis, karena dipegang oleh lima orang rajo. Masing-masing; Rangkayo Majo Basa, Rangkayo Tan Basa, Rangkayo Malekewi, Rangkayo Malako dan Rangkayo Katuah.
Nagari Tapakis merupakan satu diantara sekian nagari yang berdiri sejak zaman saisuak. Tagak samo tinggi, duduak samo randah dengan nagari besar lainnya di Padang Pariaman. Diyakini, orang yang pertama kali datang dan merambahi nagari itu bersuku Panyalai. Karena, kelima Rangkayo demikian bersuku Panyalai. Sementara, sejak nagari itu ada hingga kini dan sampai kapan pun, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) tetap dipegang oleh Rangkayo Katuah. Sama halnya dengan Nagari Ketaping, dimana Rangkayo Rajo Sampono selalu memegang jabatan KAN di nagarinya.
Menurut Abuzar Yahya, Ketua Bamus Nagari Tapakis, saat ini masyarakat mempercayakan salah seorang dari niniak mamak yang berlima itu sebagai walinagari. Dialah Rangkayo Majo Basa yang kini dijabat oleh Rusli Muslim. Ini artinya tentu ada keinginan masyarakat untuk sebuah perubahan, menguatkan fungsi niniak mamak sebagai orang yang menguasai ulayat nagari dibidang adat istiadat, sako jo pusako. Sebelumnya, Tapakis dipimpin oleh Alm. Sudirman. Di tengah jalan yang bersangkut an meninggal, lalu digantikan oleh Pjs. Maryuni yang kala itu menjabat Sekretaris Nagari.
“Ada enam suku masyarakat yang mendiami nagari ini. Mulai dari Suku Koto, Jambak, Panyalai, Guci, Sikumbang dan Suku Tanjung. Masyarakat tersebut terserak pada 14 korong; Korong Rawang, Kubu, Kampuang Pauah, Lubuak Aro, Kalamuntuang, Surau Duku, Surau Kandang, Batang Kambaru, Parit, Kasai, Kabun, Batang Gadang, Tiram dan Korong Rimbo Karambie. Dalam perkembangan pemerintahan, korong yang sebanyak itu pernah tergabung kedalam lima pemerintahan desa. Tersebutlah Desa Tapakis Selatan, Tapakis Utara, Tapakis Tengah, Tapakis Timur dan Tapakis Barat,” kata mantan anggota DPRD Padang Pariaman ini.
Pemekaran nagari yang masih terkendala
Sebagai pimpinan Bamus, Abuzar Yahya merasakan sulitnya melakukan pemekaran di nagari itu. Keinginan sebagian besar masyarakatnya untuk bisa berdiri sendiri, agaknya masih terhalang oleh pemerintahan nagari yang kini sedang memimpin. Padahal, Bamus telah memutuskan dalam rapat plenonya beberapa waktu lalu, tentang adanya keinginan masyarakat Korong Rawang yang hendak menjadi pemerintahan nagari. Keputusan Bamus hanya ting gal persetujuan dari walinagari.
“Korong rawang dalam sejarahnya pernah berdiri sendiri, sebagai Desa Rawang. Fasilitasnya pun telah banyak yang lengkap. Tinggal lagi persetujuan, dan suratnya pun telah siap diajukan ke Pemkab Padang Pariaman. Namun, itulah yang menjadi kendala. Walinagari masih menganggap, bahwa yang dimekarkan itu nagari. Padahal tidak. Adat nagari tetap satu dibawah kendali KAN Tapakis,” ujarnya.
Sebenarnya, sebut Abuzar Yahya, Nagari Tapakis yang sebelah utara berbatasan dengan Nagari Toboh Gadang, selatan dengan Samudra Hindia, timur dengan Nagari Ketaping dan sebelah barat dengan Nagari Ulakan itu layak dimekarkan menjadi lima pemerintahan nagari. Konsepnya telah ada. Yakni dipatok kepada lima pemerintahan desa dulunya. Apalagi nagari yang luasnya mencapai 42,90 kilometer persegi ini punya penduduk yang lebih untuk sebuah persyaratan lima pemerintahan nagari demikian, yang mencapai 10.175 jiwa lebih.
Menurut dia, Bamus selaku perwakilan masyarakat nagari telah berupaya semaksimal mungkin menjalankan kebijakan Pemkab Padang Pariaman yang menargetkan 40 pemerintahan nagari baru tahun ini. “Kita tentu ingin bagian dari yang sebanyak itu, sesuai kebutuhan dan kemajuan masyarakat Tapakis itu sendiri. Pemekaran yang diharapkan itu, adalah mempercepat dan mempermudah urusan masyarakat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat nagari.
Jumat, 21 Oktober 2016
Sejarah Syaikh Burhanuddin Ulakan Sumbar
Burhanuddin Ulakan Pariaman atau dikenal dengan sebutan Syaikh
Burhanuddin Ulakan (lahir tahun 1646 di Sintuk, Kabupaten Padang
Pariaman - meninggal 20 Juni 1704 pada umur 58 tahun) adalah ulama uang
berpengaruh di daerah Minangkabau sekaligus ulama yang menyebarkan Islam
di Kerajaan Pagaruyung. Selain itu beliau terkenal sebagai pahlawan
pergerakan Islam melawan penjajahan VOC. Beliau juga dikenal sebagai
ulama sufi pengamal (Mursyid) Tarekat Shatariyah di daerah Minangkabau,
Sumatera Barat.
Kehidupan awal dan pendidikan
Tidak banyak keterangan mengenai masa kecil dan latar belakang kehidupan
Syeh Burhanuddin yang berkubur di Ulakan itu. Nama kecilnya adalah
Sipono / Pono (si Panuah /Samporono). Lahir di Pariangan Padang Panjang
tahun 1066H (1646 M). Ayahnya bernama Pampak Sakti gelar Karimun Merah,
suku Koto. Ibunya bernama Cukup Bilang Pandai, suku Guci. Neneknya
bernama Puti aka Lundang keturunan Putri bangsawan kakeknya bernama
Tantejo Gurhano. Kehidupan kedua orang tuanya beternak sapi.
Keluarga Pampak Sati gelar Karimun Merah meninggalkan kampung
halamannya, Pariangan Padang Panjang. Perjalanan dari Pariangan turun ke
Malalo, terus ke Bukit Punggung Jawi terus ke Asam Pulau, dekat Kayu
Tanam. Dengan menghilirkan batang Tapakis sampai keluarga ini di Sintuk.
Jalan ini merupakan jalan dagang yang diawasi oleh Tuan Gadang dari
Batipuh.
Di tempat inilah keluarga Pampak memulai kehidupan baru. Usaha lama
dikembangkannya karena daerah Sintuk mempunyai padang rumput yang subur.
Pono dengan rajin dan patuh menggembalakan ternak ayahnya sehingga
berkembang biak yang membawa keluarga Pampak termasuk keluarga
terpandang di daerah baru ini.
Pono berjalan menghiliri Batang Tapakis mencari padang rumput baru. Di
nagari Tapakis, bersebelahan dengan nagari Ulakan, Pono mendapat teman
baru, seorang pemuda sebaya dengan dia. Teman itu ialah Idris Majolelo,
suku Koto, berasal dari Tanjung Medan. Beliau mempunyai budi pekerti
yang halus.
Ada kelebihan dari sipono bahwa dia selalu tidak mau menerima apa adanya
dia selalu berfikir dan bertanya dan banyak waktunya dia habiskan di
bukit untuk merenung sambil menggembala kerbau sehingga suatu ketika
sirangkak nan badangkang (Harimau) mengintai untuk memangsanya namun
berbekal pelajaran beladiri dari ayahnya sipono bisa mengusir harimau
tersebut namun malang baginya urat kakinya putus terkena kuku sirangkak.
Sehingga akibat peritiwa itu dibawanya hingga akhir hayat dan dia
mendapat gelar baru oleh teman temannya si pincang.
Secara garis besar agama Islam telah masuk ke Pulau Perca (Asia) dan
disebarkan di aceh 300 tahun sebelum sipono lahir namun agama baru ini
tidak bisa menyentuh sendi kehidupan daerah darek yang masih memeluk
agama Hindu dan Budha yang kuat, namun ulama dari timur bisa menembus
pedalaman Pakan Tuo batang bangkaweh yang merupakan salah satu jalur
perdagangan kala itu.
Dan seperti biasa setiap hari pekan Sipono selalu dibawa ayahnya pergi
ke pasar Tuo Batang Bangkaweh disini dia dipertemukan pada seorang
gujarat yang disebut dengan “Illapai” untuk belajar berniaga.
Kiranya Illapai ini memasukkan fahammnya pada Sipono dan sipono tertarik
untuk mendalaminya dan sejak saat itu bermulalah perjalanan hidup si
Pono.
Suatu ketika Illapai menceritakan bahwa Di nagari Tapakis berdiam
seorang ulama berasal dari Aceh yang bernama Syeh Abdul Arif yang
terkenal dengan gelar Tuanku Madinah yang disebut juga Tuanku Air Sirah.
Air Sirah adalah nama jorong di nagari Tapakis, tempat Syeh Abdul Arif
bermukim dan mengajar. Pembantu utamanya adalah Syahbuddin, Syamsuddin
dan Basyaruddin.Ulama ini seangkatan dengan Syeh Abdur Rauf al Singkli
dan sama-sama berguru kepada Syeh Ahmad Kosasih dan Syeh Abdul Qadir al
Jailani di Madinah. Syeh Abdul Arif dengan sabar dan gigih mengajar
agama Islam kepada anak nagari. Hasilnya belum menggembirakan, anak
nagari lebih teguh memegang adat istiadat jahiliyah dan kepercayaan
lama.
Dengan ajakan Idris Majolelo akhirnya Pono berkenalan dengan agama Islam
dan langsung mengucapkan dua kalimat tauhid menjadi penganut agama yang
khalis di hadapan Tuanku Madinah Beliau belajar dengan tekun dan rajin
serta mengamalkan segala fatwa gurunya. Pono termasuk murid yang
terpandai karena ketekunan dan kecerdasan otaknya.
Tidak berapa lama, tiba-tiba Tuanku Madinah meninggal dunia. Pono sering
bermenung dan terharu atas kepergian Tuanku Madinah. Alangkah sedihnya
Pono karena secara tidak diduga sama sekali guru yang dihormati dan
disayanginya telah tiada. Harapan Pono untuk mengeruk sebanyak mungkin
ilmu gurunya itu menjadi gagal.
Dengan perasaan hiba dan putus harap, Pono kembali ke Sintuk. Beliau
sering bermenung dan terharu atas kepergian Tuanku Madinah. Beliau
menyendiri dari pergaulan ramai, mengingat kemungkaran yang sering
dilakukan anak nagari. Untuk mengobati hati yang luluh beliau dengan
tekun dan sepenuh hati mengamalkan fatwa gurunya dan ajaran Islam yang
diperoleh selama belajar dengan almarhum Tuanku Madinah.
Dengan sembunyi-sembunyi, Pono sempat mengajar serta meyakinkan
teman-teman dekatnya akan hakekat kebenaran ajaran Islam. Lambat laun
agama Islam mulai meresap di hati sebahagian kecil penduduk Sintuk.
Dakwah Pono demikian tidak berlangsung lama. Tantangan demi tantangan
datang dari anak nagari, terutama para penghulu suku dan pimpinan
nagari. Mereka merasa wibawa mereka akan berkurang karenanya.
Akhirnya mereka menasehati Pono agar segera meninggalkan kegiatan
dakwahnya. Namun Pono tetap melaksanakannnya. Akibatnya tantangan
semakin menjadi. Mula-mula mereka menganiaya ternak ayahnya dan kemudian
dengan ancaman pengusiran. Puncak tantangan adalah ketika keputusan
musyawarah nagari untuk membunuh Pono apabila tidak segera menghentikan
dakwahnya. Pono tidak mendapat tempat berpijak lagi di Sintuk.
Memperdalam Ilmu ke Aceh
Pada saat krisis ini menyadarkan Pono dari kekhawatirannya. Kembali
segar dalam ingatannya pesan almarhum gurunya, Tuanku Madinah, agar
memperdalam ilmu agama kepada seorang ulama besar Abdur Rauf al Singkli.
Pesan guru ini disampaikan dengan khidmat kepada kedua orang tuanya dan
mereka merestuinya.
Secara diam-diam mereka berserah diri ke hadapan Allah, Tuhan Yang Maha
Esa. Dalam usia muda, 15 tahun, malam hari Pono meningalkan negari
Sintuk menuju Aceh guna memenuhi pesan gurunaya, Tuanku Madinah.
Dengan berat hati kedua orang tuanya melepas kepergian anak tercinta.
Kemudian Pono sujud dan mohon maaf. Air mata terus membasahi pipinya.
Pada saat itu Pono dan bangkit keluar rumah. Langkah pertama menuju Aceh
kelak mempunyai nilai tersendiri dalam peristiwa perkembangan Islam di
Minangkabau.
Dia berangkat secara diam-diam, khawatir diketahui oleh mata-mata
pemimpin nagari itu. Bekalnya adalah semangat dan tekad yang bulat serta
penyerahan diri kepada Allah. Tujuannya ke Singkil di Aceh Selatan
berguru kepada Syeh Abdur Rauf al Singkli, seorang ulama yang masyhur
waktu itu memenuhi amanat almarhum gurunya yang pertama, Tuanku Madinah.
Pono sudah berangkat. Nagari Sintuk sudah jauh ditinggalkan. Tanpa kawan
ia menyusuri pesisir Samudra Indonesia. Secara kebetulan, dalam
perjalanan ia bertemu dengan empat orang pemuda sebaya dengan dia.
Mereka lalu berkenalan, dan ternyata mereka mempunyai niat yang sama,
hendak pergi ke Aceh untuk menuntut ilmu agama kepada Syeh Abdur Rauf.
Mereka adalah Datuk Maruhum dari Padang Ganting, Tarapang dari Kubuang
Tigo Baleh, Muhammad Nasir dari Koto Tangah, dan Buyung Mudo dari Bayang
Tarusan.
Terjadilah persahabatan di antara mereka. Setelah melalui musyawarah
didapat kata sepakat, Pono diangkat menjadi kepala rombongan yang
diterimanya dengan penuh rasa tanggung jawab.
Melalui suka dan duka selama dalam perjalanan, akhirnya dengan selamat
mereka sampai di Singkil langsung menghadap dan memperkenalkan diri
kepada Syeh Abdur Rauf. Niat yang dikandung semenjak dari kampung
halaman disampaikan dengan sopan. Dengan segala senang hati Syeh Abdur
Rauf menerima dan mengabulkan permohonan calon muridnya.
Pengaruh Syekh Abdurrauf al Singkli (1620 -1693)
Syeh Abdurauf Singkel adalah seorang ulama terkenal dalam abad ke-17. Ia
dilahirkan pada tahun 1620 di Singkel, Kabupaten Aceh Selatan sekarang.
Nama lengkapnya ialah Abdurrauf al Ali al Jawi al Fansuri al Singkel.
Syeh Abdurauf Singkel dimuliakan oleh rakyat Aceh sejak dahulu hingga
sekarang. Banyak legenda mengenai Syeh Abduurauf yang terus hidup dan
dikenal turun temurun. Archer dalam bukunya, Muhammadan Mysticism in
Sumatera mengatakan, “Syeh Abdurauf Singkel, seorang cendekiawan muslim
Aceh yang sekarang dikenal dengan nama Tengku Dikuala” Nama tertancap
dalam lubuk hati rakyat sebagai ulama dan intelektual yang jenius pada
zamannya.
Sesudah mendapat pendidikan di kampung halamannya dan di ibu kota
Kerajaan Aceh, ia melanjutkan studinya ke tanah Arab. Pada tahun 16423,
ia berangkat ke Mekah. Selama 19 tahun lamanya di tanah Arab, di
antaranya Mekkah, Madinah, Jeddah, Mokka, Zebid, Batalfakih dan beberapa
tempat lainnya. Syeh Abdurauf menyelesaikan studinya pada seorang ulama
Tharikat Syattariah yang bernama Molla Ibrahim, pengikut Ahmad
Qusyasyi. Pada tahun 1661, ia kembali ke Aceh.
Sesampainya di Aceh, ia mendirikan rangkang (pesantren) dekat muara
sungai Aceh. Dari berbagai penjuru Asia Tenggara orang datang ke
tempatnya untuk belajar. Atas usaha murid-muridnya, Tharikat Syattariah
yang kemudian tersebar ke seluruh Indonesia dan Semenanjung Malaya. Di
antara muridnya yang terkenal ialah Syeh Burhanuddin di Ulakan seorang
mubaligh yang terkenal di Minangkabau yang menyiarkan agama Islam secara
intensif ke pedalaman Minangkabau.
Di samping sebagai mubaligh dan ulama, Syeh Abdurauf terus menerus
memperdalam ilmunya dalam lapangan hukum. Sebuah karyanya dalam lapangan
hukum berjudul, ”Hudayah Balighah ala Jum’at al Mukhasaman” yaitu
sebuah kupasan mengenai hukum Islam tentang bukti, persaksian dan sumpah
palsu.
Pendapat Syeh Abdurauf di lapangan hukum syariat sangat dipatuhi rakyat
Aceh dan buah pikirannya terus hidup sampai sekarang dan lebur menjadi
kaedah hukum adat dalam masyarakat Aceh. Kesanggupan Syekh Abdurauf
merumuskan hukum-hukum Islam sangat dikagumi sehingga syariat Islam
dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat Aceh saat ini. Syariat Islam
telah dijadikan Peraturan Daerah Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Karyanya yang berjudul, Miratul Tullab fi tasyil Makrifatul Ahkam
Asysyar’iyah li Malikul Wahhab, merupakan sebuah buku pengantar Ilmu
Fikih menurut Mazhab Syafi’i. Buku ini hampir sama dengan karya Nuruddin
Ar Raniri yang berjudul Sirathul Mustaqim. Bedanya buku Nuruddin ar
raniri hanya berisi soal-soal ibadah saja, tetapi buku Syekh Abdurauf
berisi juga tentang mu’amalah.
Kupasannya mengenai pokok-pokok ajaran tasauf termuat dalam bukunya
berjudul Kifayat al Muhtajin, Daqaiq al Huruf, Bayan Tajalli, dan Umdat
al Muhtadin. Tafsir al Quran dalam bahasa Melayu telah diterbitkan di
Istambul pada tahun 1882.
Kegiatannya sebagai ulama dan mubaligh sebagian besar dilakukan pada
masa pemerintahan Sulthanah Syafiatuddin, seorang sultan yang memerintah
selama 34 tahun. Masa pemerintahan pemerintahannya adalah masa yang
penuh luka-luka karena kekalahan armada Aceh ketika menyerang Malaka
pada tahun 1629. Sementara pertentangan faham agama tindakan kekerasan
yang dilakukan semasa pemerintahan Sulthanah Syafiatuddin dalam membasmi
ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al Sumatrani dalam ajaran
Syattariah tentang Wihdatul wujud.
Bentuk dan sifat pertentangan antara Syeh Abdurrauf dan Ar Raniri dengan
Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al Sumatrani berpangkal pada adanya dua
aliran dalam ilmu tasauf. Aliran Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al
Sumatrani bernama wihdatulwujud atau kesatuan ujud sedangkan aliran Syeh
Abdurrauf adalah Wihdatusysyuhud.
Wihdatusysyuhud ialah faham umum umat Islam yang menyatakan bahwa alam
yang baru ini adalah sebagai kesaksian dari pada adanya Tuhan. Jadi,
bukkanlah alam itu sebagian dari Tuhan, melainkan sebagai tanda adanya
Tuhan. Pemahaman ini adalah pemahaman wujudiyah/wahdatul wujud yang
telah di sempurnakan oleh Syeh Abdurrauf yang ditulis dalam kitabnya
“Tanbih Al-Masyi”.
“maka pahamilah ketetapan ini dan janganlah mencampur adukan sesuatu,
karena mencampuradukan persoalan itu termasuk kebiasaan orang-orang yang
tidak mengenal Allah. Katakan dan yakinkan bahwa hamba tetap hamba
meskipun ia naik pada tingkat yang tinggi (taraqqi) Tuhan tetap Tuhan,
meskipun Dia turun (tanazzul) dan hakekat itu tidak akan berubah,
artinya hakekat hamba tidak akan berubah menjadi hakekat Tuhan. Demikian
pula sebaliknya walau pada zaman azali sekalipun.”
Keterangan yang dijelaskan oleh Syeh Abdurrauf bahawa hamba tidak akan
bisa menyatu pada Tuhan secara mutlak. Syeh Abdurrouf mengutip
keterangan dari gurunya Ibrahim Al-Khurani :
“pada zaman azali tidak ada yang tampak selain Allah, segala sesuatu
tersimpan pada pengetahuanNya. Dan tidak memiliki wujud yang berbeda
dari Al-haq, ia tampak karenaNya dan ia wujud karena wujudNya.”
Ditegskan kembali oleh Syeh Abdurrauf:
“ketahuilah wahai murid bahwa kesatuan segala sesuatu itu tidak benar
kecuali sekalian munculnya segala sesuatu tersebut dalam kenyataan
(MASIH ADA PADA ZAMAN AZALI) oleh karenanya , kita tidak dapat
mengatakan bahwa Al-Kull itu adalah Al-haq, kecuali dari segi tidak
adanya perbedaan dalam keesaan seperti yang telah dikemukakan. Adapun
hukum batin adalah hukum yang samar (‘adam) sedangkan hukum yang lahir
adalah hukum yang tampak nyata (wujud) ketahuilah itu dan jangan keliru
dalam hal ini, kamu memohon ampunan dan kesehatan kepada Allah dalam
urusan agama, dunia dan ahkirat.”
Pada hari Jum’at tanggal 4 Sya’ban 1114 H atau 1698 M, Syeh Abdurauf
berpulang ke rahmatullah. Pada batu nisannya terlukis Al Waliyul Malki
Syeh Abdurrauf bin Ali. Namanya kemudian lebih dikenal dengan sebutan
Syeh Kuala. Sesudah ia meninggal dikenal dengan nama Tengku di Kuala
atau Syeh Kuala. Ia mengambil tempat untuk mengajar di kuala (muara)
Krueng (sungai) Aceh dan di sana pula ia dikuburkan.
Syeh Abdurrauf berhasil menyelesaikan studinya dengan baik. Kemudian
beliau kembali ke Aceh langsung mendirikan rangkang (pesantren) dekat
muara Krueng Aceh. Kegiatan rangkang ini maju pesat. Kemampuan Syeh
Abdur Rauf merumuskan hukum-hukum Islam dalam bentuk sederhana dan mudah
dicernakan, menyebabkan syariat Islam dapat diterima dan dilaksanakan
masyarakat Aceh. Atas dasar pengetahuannya di bidang hukum agama, ia
diangkat menjadi mufti kerajaan Aceh.
Syeh Abdur Rauf adalah seorang sufi dari aliran Syattariah dan bermazhab
Syafe’i. Fahamnya dalam tasauf tergolong dalam faham yang dinamakan
Wihdatusysyuhud, jadi tidak berbeda faham pendirian Nuruddin Ar Raniri.
Dalam polemik beliau menentang ajaran-ajaran Hamzah Fanshuri dan
Syamsuddin As Sumatrani cukup tegas dan keras, tetapi tetap bijaksana
sehingga kekacauan dan peperangan agama tidak terjadi dalam masyarakat .
Sejak masa Sulthan Iskandar Muda telah tinggi perbincangan ulama-ulama
dalam hal agama, yang terpenting pertentangan antara faham wihdatul
wujud yaitu ”alam ini adalah ciptaan dari bahagian ketuhanan sendiri,
laksana buih pada puncak ombak. Maka dalam alam zahir ini sebagai
bahagian dari pada ketuhanan yang besar“. Menurut ahli tasauf dari
aliran ini, dunia adalah hanya emanasi atau pancaran dari inti sari yang
tidak tercipta.
Wihdatusyuhud ialah paham yang rata pada umat Islam, bahwa alam yang
baharu ini adalah sebagai kesaksian dari pada adanya Tuhan. Jadi
bukanlah alam ini sebagaian dari Tuhan, melainkan sebagai tanda dari
pada adanya Tuhan.
Karya-karya yang pernah beliau tulis, antara lain:
1. Hudayah Balighah ‘ala Jum’at al muchasanah, suatu pembahasan mengani
hukum Islam tentang: bukti, kesaksian dan sumpah palsu. Buah pikirannya
ini menjadi pedoman dan kaedah hukum adat dalam masyarakat Aceh hingga
dewasa ini.
2. Miratul Tullab fi Tasyl Ma’rifatul Asysyariah li makhluk Wahhab kupasan mengenai pengantar Imu Fiqih menurut mazahab Syafii.
3. Kifayat al Muhtajin, Daqaiq al Huruf, Bayan Tajalli, suatu kupasan
mengenai pokok-pokok ajaran tasauf dan dasar-dasar pendiriannya dalam
lapangan ini.
4. Syair makrifat, karangan dalam bentuk puisi.
5. Tafsir al Qur an, dalam bahasa Melayu.
Kepada ulama dan mubaligh inilah Pono menuntut ilmu dan memperdalam
ajaan Islam selama 10 tahun. Lebih-lebih ketika Syeh Abdur Rauf al
Singkli diangkat Sulthanat Syafiatuddin sebagai mufti Aceh, Pono dapat
belajar tentang kehidupan istana dalam hubungannya dengan kegiatan
masyarakat Aceh.
Syeh Abdurrauf memberikan perhatian istimewa pula kepada Pono. Hubungan
antara murid dengan guru terlihat sangat intim. Di samping belajar, Pono
membantu guru menggembalakan ternaknya. Membuat dan memelihara kolam
ikan sebagai bagian dari kegiatan rangkang ini. Murid-murid di rangkang
Syeh Abdurrauf harus berusaha sendiri dan mempunyai ketrampilan untuk
memenuhi keperluan hidup.
Pono diajak tinggal serumah dengan guru. Tugas Pono bertambah dengan
mengasuh anak-anak sang guru. Pono sudah dianggap sebagai keluarga
sendiri oleh Syeh Abdurrauf.
Minat serta perhatiannya sungguh luar biasa diikuti dengan daya tangkap
yang tinggi. Tidak mengherankan Pono termasuk murid yang terpandai di
antara pelajar di sana. Karena itulah Syeh Abdurrauf mencurahkan
sekalian ilmu yang pernah dimilikinya, dan kesempatan ini dipergunakan
sebaik-baiknya oleh Pono. Ilmu yang dipelajarinya ialah ilmu syariat
Islam dengan cabang-cabangnya tauhid, tasauf, nahu, sharaf, hadits dan
juga ilmu taqwim (hisab).
Setelah melalui ujian-ujian berat dilengkapi dengan berkhalwat selama 40
hari di gua hulu sungai Aceh, di kaki Gunung Peusangan, sebelah selatan
Beureun, akhirnya Pono berhasil lulus dengan baik, Syeh Burhanuddin
kembali ke Minangkabau.
Setelah cukup menerima ilmu pengetahuan selama beberapa than tibalah
masanya Syeh Burhanuddin meninggalkan Aceh. Masa pendidikan diakhiri
dengan perpisahan antara guru dan murid dengan penuh kasih sayang.
Terjadi percakapan antara Syeh Abdurrauf dengan Syeh Burhanuddin yang
berbunyi sebagai berikut:
“Malam ini berakhirlah ketabahan dan kesungguhan hatimu menuntut ilmu
tiada taranya. Suka duka belajar telah engkau lalui dengan sepenuh hati.
Berbahagialah Engkau, dengan rahmat dan karunia Tuhan, telah selamat
menempuh masa khalwat 40 hari lamanya. Engkau beruntung di dunia dan
berbahagia di akhirat kelak. Sekarang pulanglah engkau ke tanah tumpah
darahmu menemui ibu bapamu yang telah lama engkau tinggalkan. Di samping
itu tugas berat dan mulia menantimu untuk mengembangkan Islam di sana.”
“Syukur Alhamdulillah”, kata Syeh Burhanuddin.
“Hatimu telah terbuka dan aku mendoa ke hadhirat Allah subhanahu
wata’ala, semoga cahaya hatimu menyinari seluruh alam Minangkabau. Kini,
engkau, aku lepaskan. Namun dengar baik-baik! Guru di Madinah ada empat
orang, yakni Syeh Ahmad al Kusasi, Syeh Qadir al Jailani, Syeh Laumawi.
Ketika aku berangkat ke tanah Jawi ini beliau memberi amanat yang harus
kusampaikan kepadamu.
Sesungguhnya nama Burhanuddin yang engkau pakai adalah nama pemberian
guruku itu dan ia mengirimkan sepasang jubah dan kopiah. Terimalah ini
dari padaku supaya sempurna amanat yang kubawa dan suatu kemuliaan bagi
engkau dengan sepasang pakaian ini tanda kebesaran ilmu yang penuh di
dadamu!”
Hari ini adalah saat perpisahan antara guru dengan murid dan
meninggalkan mesjid Singkil untuk selama-lamanya bagi Syeh Burhanuddin.
Syeh Abdurrauf melepas Syeh Burhanuddin dengan sebuah taufah dan
menyediakan perahu disertai sembilan orang yang akan mengawalnya selama
dalam perjalanan. Rombongan ini dipimpin oleh Tuanku Nan Basarung dengan
pesan supaya mengantarkan Syeh Burhanuddin sampai di kampung
halamannya.
Pada saat itu telah terjadi perubahan hubungan antara Aceh dengan
Minangkabau. Daerah yang selama ini berada di bawah kekuasaan Aceh satu
persatu ingin melepaskan diri. Demikian juga halnya dengan Minangkabau.
Telah terjadi beberapa kali perkelahian dan peperangan yang banyak
memakan korban. Di antaranya gugur seorang panglima bernama Sisangko,
kemenakan panglima Kacang Hitam, cucu Ami Said yang berkubur di Pulau
Angso.
Perahu Syeh Burhanuddin mendarat di Pulau Angso di muka pantai Pariaman
untuk beristirahat dan meninjau keadaan di darat. Bersama dengan
pengawalnya kemudian mereka mendekati pantai Ulakan. Perahu Syeh
Burhanuddin adalah perahu Aceh, sehingga penduduk di sekitar pantai
telah siap berjaga-jaga lengkap dengan senjata menunggu kemungkinan yang
akan terjadi. Melihat keadaan seperti itu Syeh Burhanuddin berpendapat
lebih baik kembali ke Pulau Angso menunggu saat yang baik.
Namun, Tuanku Nan Basarung berpendapat lain. Tugasnya adalah
mengantarkan orang kampung mereka sendiri yang telah merantau ke Aceh
beberapa tahun. Dengan keras hati ia mendayung sendiri ke pantai. Ia
disambut dengan perkelahian melawan orang banyak. Walaupun ia
memperlihatkan keberaniannya, namun akhirnya ia gugur dalam melakukan
tugas yang diembannya. Syeh Burhanuddin tinggal sendirian di Pulau Angso
setelah pengawalnya yang delapan orang itu disuruhnya kembali ke Aceh.
Ia berpesan kepada Syeh Abdur Rauf bahwa ia telah sampai di kampung
halamannya dan akan menyelamatkan jenazah Tuanku Nan Basarung.
Melalui seorang nelayan, Syeh Burhanuddin mengirimkan sepucuk surat
kepada teman akrabnya, Idris Majo Lelo yang menyatakan beliau sudah
kembali dari Aceh dan sekarang berada di Pulau Angso. Perahu yang
mendekati pantai Ulakan kemarin adalah perahu saya yang sengaja dikirim
oleh Syekh Abdur Rauf. Setelah menerima surat tersebut, Idris Majo Lelo
menyampaikan isi dan maksud surat tersebut kepada pemimpin dan rakyat
Ulakan. Besoknya, Idris Majo Lelo diiringi beberapa orang menjemput
ulama ini ke pantai Kenaur dekat Pariaman. Kedua teman ini berjabat
tangan setelah sekian lama berpisah.
Sesaat kemudian mereka berangkat ke Padang Langgundi, Ulakan. Di sanalah
mereka bermalam. Sebagai tanda kenang-kenangan kembali dari menuntut
ilmu, Syekh Burhanuddin menanam ranting pinago biru yang dibawa dari
Aceh. Beliau berpesan kepada Idris Majo Lelo bila ajal sampai kelak ia
dikuburkan dekat pinago biru ini.
Menyebarkan Ajaran Islam
Di Tanjung Medan ada sebidang tanah milik Idris Majo Lelo, pemberian
dari Raja Ulakan. Ke sanalah Syeh Burhanuddin dibawanya. Dimulainyalah
tugas suci mengajar dan menyebarkan ajaran Islam. Usaha pertama
dilakukannya di lingkungan keluarga Idris Majo Lelo. Kemudian diikuti
oleh tetangga terdekat.
Walaupun mendapat tantangan dari golongan ninik mamak dan pemimpin
mesyarakat lainnya yang khawatir pengaruhnya akan berkurang, namun
akhirnya sebagian besar masyarakat Tanjung Medan sudah menganut agama
Islam yang taat.
Syeh Burhanuddin meresapkan agama Islam dengan cara lunak dan berangsur-angsur.
Jalan yang dilakukan adalah menerapkan salah satu ayat al Quran yang
berbunyi la iqraha fiddin, tidak ada paksaan dalam menjalan agama.
Kegagalan sewaktu di Sintuk dulu diperbaikinya sekarang setelah mendapat
ilmu dakwah dari gurunya, Syeh Abdurrauf.
Ternyata cara baru ini berhasil dilaksanakan dengan baik. Beliau yakin
bahwa kegagalan di Sintuk merupakan keberhasilan yang tertunda, yang
baru menampakkan hasil setelah beliau melakukan dakwah islamiyah di
dalam dan di luar nagari Ulakan.
Dalam usaha meresapkan ajaran Islam terutama diarahkan kepada anak-anak
yang masih “bersih” dan mudah dipengaruhi. Diusahakan oleh Syeh
Burhanuddin agar anak-anak bermain di halaman surau. Syeh Burhanuddin
ikut pula bermain bersama-sama dengan anak-anak tersebut. Setiap memulai
permainan Syeh Burhanuddin selalu mengucapkan nama Tuhan, bismillahir
rahmanir rahim dan bacaan doa-doa lain.
Itulah sebabnya anak-anak tertarik ingin belajar dan ingin mengetahui
isi doa yang dibaca beliau. Setelah murid-murid makin banyak mengaji,
akhirnya setelah dimusyawarahkan secara gotong royong dibangun sebuah
surau di Tanjung Medan yang sampai sekarang dapat kita saksikan tempat
mengaji bagi anak-anak dan santri.
Ilmu pengetahuan agama yang dalam serta pengalaman kenegaraan yang
didapat bersama gurunya, Syeh Abdurrauf yang menjadi seorang mufti pada
Kerajaan Aceh, menciptakankan sistem pendidikan surau. Murid-murid yang
diasuhnya kemudian menyebar di seluruh pelosok Minangkabau yang
mendirikankan surau-surau sebagai pusat studi yang melahirkan
cendekiawan ke pedalaman Minangkabau.
Bahkan Syeh Burhanuddin mencapai kesepakatan dengan Yang Dipertuan
Kerajaan Minangkabau yang menyatakan bahwa hukum adat dan hukum agama
sama-sama dipakai sebagai pedoman hidup dalam masyarakat di Minangkabau.
Ketentuan adat dan hukum agama Islam dalam masyarakat Minangkabau yang
matrilineal sebagai suatu proses integrasi lebih dikenal dengan adat
basandi syarak, syarak basandi kitabullah.
Kesepakatan Bukit Marapalam
Berita kegiatan Syeh Burhanuddin di Ulakan ini meluas sampai ke daerah
lain, ke Gadur Pakandangan, Sicincin, Kapalo Hilalang, Guguk Kayu Tanam
terus ke Pariangan Padang Panjang dan akhirnya sampai ke Basa Ampek
Balai dan raja Pagaruyung sendiri.
Alam Minangkabau waktu itu menjadi goncang dan perhatian tertuju ke
Ulakan sebagai pusat pendidikan dan penyiaran Islam dengan
mengintensifkan ke seluruh pelosok Minangkabau. Cara yang dilakukan
ialah, dengan meminta restu kepada Raja Pagaruyung. Apabila Raja telah
yakin akan kebenaran agama Islam ini Alam Minangkabau akan mudah
dipengaruhi. Secara kebetulan, salah seorang temannya belajar di Aceh,
Datuk Maruhum Basa, diangkat oleh Yang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung
sebagai Tuan Kadhi di Padang Ganting.
Dengan diiringkan oleh Idris Majo Lelo, Syeh Burhanuddin menemui Raja
Ulakan yang bergelar Mangkuto Alam, kemenakan Datuk Maninjun Nan
Sabatang dan Ami Said, cucu Kacang Hitam dengan maksud menyampaikan
niatnya memperluas ruang lingkup kegiatan dakwah. Dengan kepandaian
berbicara akhirnya Mangkuto Alam ditunjuk menghadap Daulat Raja
Pagaruyung. Ajakan ini diterima baik oleh Mangkuto Alam setelah
dimusyawarahkan dengan “Orang Nan Sebelas di Ulakan.”
Berangkatlah Syeh Burhanuddin dan Idris Majo Lelo bersama dengan
Mangkuto Alam dan Orang Nan Sebelas Ulakan dengan diiringkan hulubalang
seperlunya menghadap Daulat Yang DipetuanRaja pagaruyung. Pertama yang
ditemui Datuk Bandaharo di Sungai Tarab. Atas inisiatif Datuk Bandaro
diundanglah basa Ampek balai untuk membicarakan maksud dan tujuan “orang
Ulakan” tersebut minta izin menyebarluaskan ajaran Islam di
Minangkabau.
Tempat sidang diadakan di sebuah bukit yang dikenal dengan nama “Bukit
Marapalam” Keduanya merupakan norma hukum dan saling isi mengisi yang
akan jadi pedoman hidup masyarakat Minangkabau. Inti sari konsepsi
Marapalam melahirkan ungkapan “adat basandi syarak”, sebagaimana
disinggung oleh Scherieke dalam bukunya “Pergolakan Agama di Sumatra
Barat (terjemahan) sejak tahun 1668 konsepsi Marapalam itu dicetuskan
sehingga alim ulama di Minangkabau telah dapat melibatkan rakyat dalam
suatu aksi politik agama.
Konsepsi Marapalam ini dengan kerendahan hati disampaikan ke hadapan
daulat Raja Pagaruyung. Kepada pembesar kerajaan dimintakan pertimbangan
yang diterima dengan suara bulat.
Syeh Burhanuddin dan pengikutnya diberikan kebebasan seluas-luasnya
mengembang agama Islam di seluruh Alam Minangkabau. Dalam pepatah adat
disebutkan batas-batasnya, ” di dalam lareh nan duo, luhak nan tigo,
dari ikue darek kapalo rantau sampai ke riak nan badabue” Syeh
Burhanuddin dengan gerakannya dilindungi oleh kerajaan Pagaruyung.
Bagaimana usaha Syeh Burhanuddin berhasil mencapai kesepakatan dalam
waktu yang singkat dengan Yang Dipertuan Raja Pagaruyung? Tak heran
peranan gurunya di Aceh dengan filsafah “adat bak po teumeureuhum, huköm
bak syiah kuala”, (adat kembali pada raja, Iskandar Muda, hukum agama
pada Syeh Kuala) teralir dalam pikiran muridnya Syeh Burhanuddin di
Ulakan.
Daerah pesisir sebagai bagian dari rantau Yang Dipertuan Pagaruyung
menentang kehadiran Persatuan Dagang Belanda (VOC) yang mencoba
menerapkan penguasa tunggal dalam perdagangan dan memecah belah rantau
pesisir. Di antaranya dengan menciptakan Perjanjian Painan tahun 1662.
Sedang di daerah pesisir mulai berkembang surau-surau yang mengadakan
perlawanan terhadap monopoli dagang, seperti Muhammad Nasir dari Koto
Tangah, Tuanku Surau Gadang di Nanggalo. Antara Syeh Burhanuddin dengan
Yang Dipertuan Raja Pagaruyung mempunyai kepentingan yang sama yaitu
keutuhan Alam Minangkabau.
Dengan kedua kepentingan antara keutuhan daerah rantau kesepakatan mudah
dicapai antara Syeh Burhanuddin dengan Yang Dipertuan Pagaruyung.
Kesepakatan inilah yang sering disebut dengan Perjanjian Marapalam.
Kemudian usaha Belanda ingin memasuki pedalaman Minangkabau dirintis
oleh Thomas Diaz yang berangkat dari Patapahan menembus hutan rimba dan
tiba di Buo (1680) disambut Raja Malio. Pengalaman Syeh Burhanuddin
bersama gurunya, Syeh Abdur Rauf sebagai mufti kerajaan Aceh, menambah
wawasan Syeh Burhanuddin dalam politik keagamaan di Minangkabau.
Peristiwa bersejarah di Bukit Marapalam dan Titah Sungai Tarab menghadap
kepada Yang Dipertuan Kerajaan Pagaruyung telah tersiar di seluruh
pelosok Alam Minangkabau dan menerima agama Islam dengan kesadaran.
Islam diakui sebagai agama resmi. Adat dan agama telah dijadikan pedoman
hidup dan saling melengkapi. Saat itu lahirlah ungkapan “adat menurun,
syarak mendaki. Artinya adat datang dari pedalaman Minangkabau dan agama
berkembang dari daerah pesisir.
Syariat Islam yang dibawa dan dikembangkan oleh Syeh Burhanuddin telah
menyinari Alam Minangkabau banyaklah orang yang menuntut ilmu agama.
Dari mana-mana orang berdatangan ke Tanjung Medan. Nama Tanjung Medan
sebagai pusat pendidikan dan pengajaran ilmu Islam sudah masyhur. Surau
Tanjung Medan penuh sesak dengan murid-murid beliau.
Untuk menampung mereka dibangun lagi surau-surau disekeliling surau
asal. Menurut catatan terdapat 101 buah surau baru di Tanjung Medan yang
merupakan satu kampus, permulaan sistem pesantren yang kita kenal
sekarang. Perjanjian Marapalam kemudian berkembang menjadi suatu proses
penyesuaian terus menerus antara adat dan agama Islam, saling menopang
sebagai pedoman hidup masyarakat Minangkabau.
Syeh Burhanuddin telah meninggalkan jasa yang gilang gemilang. Namanya
senantiasa akan hidup terus dan tak terlupakan sepanjang masa. Sebelum
meninggal dunia, Syeh Burhanuddin tidak lupa mendidik kader penerus
dalam usaha menyebarluaskan ajaran Islam yang dilakukan melalui latihan
dan pendidikan.
Untuk meneruskan perjuangan beliau, Syeh Burhanuddin melatih dan
mendidik dua orang pemuda Tanjung Medan, Abdul Rahman dan Jalaluddin
yang akan menggantikan kedudukan, “khalifah” kelak. Menurut penilaiannya
kedua anak muda ini memenuhi pesyaratan dalam mengemban tugasnya, baik
dari akhlak, kecerdaan serta ketrampilan dakwah. Untuk itu ditetapkan
Abdul Rahman sebagai khalifah I. Idris Majo Lelo, teman akrab Syeh
Burhanuddin sedari muda bekerja bahu membahu dalam menegakkan agama
Islam, sebagai kehormatan atas jasanya, Idris Majo Lelo diangkat menjadi
Khatib nagari Tanjung Medan dan jabatan itu berlangsung sampai
sekarang.
Tharekat Ulakan
Ajaran yang dikembangkan Syeh Burhanuddin sebagai penganut mazhab Sjafii
adalah tharikat Syattariyah, yang dinamakan juga tharikat Ulakan atau
“martabat yang tujuh”.
Martabat yang tujuh adalah mengenai ketujuh tahap pancaran dari “ada
yang mutlak”, bersumber dari ajaran al Halaj, Ibnu Arabi. Menurut ajaran
ini semua yang di alam merupakan pancaran dari Allah.
Pikiran ini dikembangkan dari ajaran Wihdatul wujud, bersatu dengan
Tuhan. Penganjur faham wihdatul wujud di Aceh adalah Syamsuddin Pasai al
Sumatrani dan Hamzah Fansuri. Menurut Syamsuddin al Sumatrani, bahwa
Allah itu roh, dan wujud kita ini roh dan wujud Tuhan.
Sedangkan Hamzah Fansuri mengatakan bahwa asal roh itu qadin, yakni roh
Muhammad s.a.w. karena ia dijadikan Allah dari pada nur zatnya yang
qadin. Man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu (siapa yang mengenal
dirinya, berarti mengenal Tuhannya), yang oleh Hamzah Fansuri diartikan
bahwa manusia bersatu dengan Tuhan, bersatu sifat dengan zat.
Adapun ajaran tharikat Syattariyah mempunyai ciri-ciri khusus, antara lain:
a. tentang lafadz bahasa Arab dari pada imam dan upacara-upacara berdasarkan bahasa Arab yang kuno dan kurang murni.
b. Permulaan dan akhir puasa dilaksanakan semata-mata atas rukyah, dalam arti dapat dilihat dengan mata adanya bulan.
Pengaruh tharikat ini masih dapat disaksikan sekarang lewat “basapa” ke
makam Syeh Burhanuddin di Ulakan. Dalam komplek makam tersebut,
pengikutnya melakukan ratib semalam suntuk. Dalam ajaran tharikat,
pendekatan dan penghormatan kepada guru diutamakan sekali. Jalan pikiran
manusia dalam ajaran tharikat turut mempengaruhi akan peningkatan
amalannya melalui makrifat (ilmu) dan hakikat (kebenaran sejati =
Tuhan).
Untuk memperoleh makrifat, perlu guru atau khalifah. Tanpa guru,
makrifat tidak akan berhasil mencapai hakikat. Fungsi guru di sini
adalah sebagai perantara (rabuthah). Guru menjadi komponen utama dalam
menghubungkan seseorang dengan Tuhannya (hakikat), karenanya menurut
faham ini dalam doa nama guru perlu disebut. Menyebut nama guru ialah
memudahkan doa diperkenankan.
Proses pencapaian hakikat yang telah diajarkan guru menuntut
penghormatan kepada guru, sehingga setelah meninggal jasa guru perlu
diingat dalam bentuk ziarah ke makamnya. Dalam pikiran si murid, ulama
dan guru tharikat dianggap mempunyai kelebihan yang luar biasa hingga
dianggap keramat.
Tanah dan tempat-tempat yang pernah dipakai oleh ulama tersebut perlu
dihormat dan dikunjungi. Banyak di antara murid-murid Syeh Burhanuddin
yang mengembangkan ajaran tharikat ini di Minangkabau. Salah seorang
murid yang terkenal ialah Tuanku Mansiang di Paninjauan.
Setelah Syeh Burhanuddin wafat, banyak pula orang yang berguru kepada
Tuanku Mansiang ini. Perkembangan kemudian cepat berubah sesuai dengan
perkembangan pedalaman Minangkabau, Murid-murid Tuanku Mansiang ini
mendirikan surau-surau di kampungnya dalam mengembangkan keahliannya
masing-masing.
Pada pertengahan kedua abad ke-18 terjadi perkembangan ilmu pengetahuan,
politik dan lahirnya cendekiawan sebagai salah satu unsur kepemimpinan
tali Tigo Sapilin.
Sejalan dengan itu lahir pula pembaharuan pemikiran agama Gerakan
“kembali ke syariat” yang lebih dikenal dengan sebutan Gerakan Padri
(1784 – 1821) untuk mengatasi kemajuan kehidupan masyarakat pada
masanya.
“…siapapun orang nya yang mendalami tentang ilmu hakikat tidak
menjalankan atau meniggalkan syari’at bagaikan tubuh ada hati tiada
akal…”
“…Mendalami syari’at tanpa mengetahui atau famam tentang ilmu hakekat bagaikan tubuh yang ada akal tiada hati…”
Syeh Burhanuddin telah banyak dikenal dan diperbincangkan para ilmuwan,
baik dalam literatur, maupun dari laporan bangsa Eropa lainnya. Salah
satu sumber utama yang menjelaskan dari perkembangan surau-surau dan
lahirnya pembaruan Islam di Minangkabau berasal dari sebuah naskah kuno
tulisan Arab Melayu. Naskah itu berjudul, Surat Keterangan Saya Faqih
Saghir Ulamiyah Tuanku Samiq Syekh Jalaluddin Ahmad Koto Tuo, yang
ditulis pada tahun 1823. Buku ini menjelaskan peranan surau dalam
menyebarkan agama Islam di pedalaman Minangkabau yang dikembangkan oleh
murid-murid Syeh Burhanuddin Ulakan.
Di samping itu, riwayat ulama ini telah diterbitkan dalam tulisan Arab
Melayu oleh Syeh Harun At Tobohi al Faryamani (1930) dengah judul
Riwayat Syeh Burhanuddin dan Imam Maulana Abdul Manaf al Amin dalam
Mubalighul Islam. Buku ini menerangkan dengan jelas mengenai diri Pono,
yang kemudian bergelar Syeh Burhanuddin. Diceritakan dengan jelas
kehidupan keluarga, masa mengenal Islam dengan Tuanku Madinah kemudian
berlayar ke Aceh untuk menimba ilmu kepada Syeh Abdurrauf al Singkli.
Syeh Burhanuddin adalah salah seorang dari murid Syeh Abdur Rauf al
Singkli yang dikenal juga dengan panggilan Syeh Kuala. Sekembali dari
Aceh, Syeh Burhanuddin membawa ajaran Tharikat Syattariyah ke Ulakan
pada bagian kedua abad ke-17. Dari Ulakan ajaran tarikat menyebar
melalui jalur perdagangan di Minangkabau terus ke Kapeh-kapeh dan
Pamansiangan, kemudian ke Koto Laweh, Koto Tuo, dan ke Ampek Angkek. Di
sebelah barat Koto Tuo berdiri surau-surau tarikat yang banyak
menghasilkan ulama. Daerah ini dikenal dengan nama Ampek Angkek, berasal
dari nama empat orang guru yang teruji kemasyhurannya.
Murid-Murid yang belajar di surau Syattariah terbuka untuk mempelajari
seluruh rangkaian pengetahuan Islam. Salah satu buku yang dipelajari
Syeh Burhanuddin dan murid-muridnya adalah karya Abdurrauf yang
memperlihatkan penghargaan yang tertinggi terhadap “syariat”. Beberapa
surau Syattariyah mempelajari cabang ilmu agama, sehingga terjadi
spesialisasi pengajaran agama Islam di Minangkabau. Masing-masing surau
itu memperdalam salah satu cabang ilmu agama, seperti: Surau Kamang
dalam ilmu alat (nahu sharaf dan tata bahasa Arab), Koto Gadang dalam
mantik ma’ani, Koto Tuo dalam ilmu tafsir Quran, tarbiyah dan hadith),
Surau Sumanik dalam ilmu faraidh (pewarisan) hadits; Surau di Talang
dalam badi’, maani dan bayan (tata bahasa Arab ).
Dalam catatan lain terdapat sederetan para ahli dan penulis yang
menyelidiki riwayat dan peranan Syeh Burhanuddin. Dari kisah perjalanan
Thomas Diaz tahun 1684 yang diceriterakan de Haan, bahwa ulama ini telah
melibatkan rakyat dalam politik agama yang dikenal dengan nama
“perjanjian Marapalam” pada tahun 1686, yang kemudian hari melahirkan
konsepsi, Adat tidak bertentangan dengan Syarak.
Penulis bangsa Indonesia seperti Hamka dalam bukunya, Sejarah Umat Islam
(1961), Sidi Gazalba dalam Mesjid, Pusat Ibadat dan Kebudayaan Islam
(1962) dan Prof. Muhmud Yunus dalam Sejarah Islam di Minangkabau (1969)
mengupas peranan ulama Syeh Burhanuddin sebagai pengembang agama Islam
yang berpusat di Ulakan.
Semua para penulis tersebut sepakat bahwa Syeh Burhanuddin adalah
seorang ulama dan pengembang agama Islam di Minangkabau dilahirkan di
Guguk Sikaladi Pariangan Padang Panjang dengan nama kecil Pono. Sebagai
seorang mubaligh yang mengembangkan agama Islam setelah memperdalam
syariat Islam selama 10 tahun di Aceh, sekembali dari Aceh mendirikan
surau di Tanjung Medan dan surau-surau lainnya di Ulakan.
Syeh Burhanuddin meninggal dunia pada hari Rabu 10 Syafar tahun 1116H
atau 1704 M di Ulakan. Hari kematiannya dirayakan pengikutnya setiap
tahun yang dikenal dengan nama “basapa”. Jika 10 Syafar jatuhnya pada
hari Rabu, akan diperingati sebagai “basapa gadang” , bersapar
besar-besaran.
Peninggalan Syeh Burhanuddin
Peninggalan Syeh Burhanuddin saat ini yang terpelihara dengan baik,
seperti bangunan Surau Tanjung Medan dan Makam Ulakan yang dapat menjadi
monumen sejarah dalam membantu menelusuri jejak sejarah yang dikandung
monumen itu. Peninggalan sejarah itu dapat dijadikan salah satu sumber
penulisan sejarah Syeh Burhanuddin.
Surau Syeh Burhanuddin
Peninggalan utama Syeh Burhanuddin yang sampai saat ini masih
terpelihara dengan baik adalah bangunan surau di Tanjung Medan dan
komplek makam di Ulakan yang menjadi tujuan ziarah bagi pengikutnya
sebagai rasa hormat kepada guru dan pengembang agama Islam di
Minangkabau. Dari segi geografis, nagari Ulakan terletak di muara sungai
Ulakan di tepi pantai barat Sumatra. Suatu kampung atau nagari yang
terletak di tepi pantai paling cepat menerima perkembangan dan
pertumbuhan.
Secara alamiah Nagari Ulakan berbatas:
a. Sebelah utara dengan Nagari Sunur dan Nagari Pauh Kambar
b. Sebelah selatan dengan Nagari Tapakis
c. Sebelah barat dengan Samudra Indonesia
d. Sebelah timur dengan Nagari Tapakis
Nagari Tapakis terdiri dari 19 jorong, yakni Padang Toboh, Maransi,
Sungai Gimbar Ganting, Lubuk Kandang, Sikabu, Tiram, Kampung Ladang,
Kampung Gelapung, Kampung Koto, Bungo Padang, Pasar Ulakan, Tengah
Padang, Palak Gadang, Tanjung Medan, Binuang, Koto Panjang, Manggopoh
Dalam, Manggopoh Ujung, dan Padang Pauh. Letak Jorong ini umumnya
terletak sepanjang pantai atau pesisir, penduduknya sebagian besar
terdiri dari nelayan. Di lingkungan seperti inilah peninggalan Syeh
Burhanuddin berupa makam di Ulakan dan Surau di Tanjung Medan.
Setelah bandar Malaka diduduki oleh Portugis pada tahun 1511, jalan
dagang berpindah dari Aceh, pantai barat Sumatra, Banten, Giri di Jawa
Timur, Goa dan Tello di Sulawesi, dan Ternate Tidore di Maluku. Di
pantai barat Sumatra tumbuh kota-kota perdagangan seperti Meulaboh,
Sibolga, Tiku Pariaman, Indrapura. Ulakan, sebagai kota pelabuhan
dagang, mengalami kemajuan karena disinggahi oleh para pedagang berbagai
daerah dan dari luar negeri seperti saudagar Gujarat, India, Arab dan
Cina.Ulakan menjadi suatu pelabuhan penting dan pintu gerbang bagi
daerah Minangkabau di masa itu, dan tempat bertemu saudagar-saudagar
yang beragama Islam.
Pada batu nisan Syeh Burhanuddin tercantum hari wafatnya pada tanggal 10
Syafar 1116 H bertepatan dengan hari Rabu atau 1704 H. Ia meninggal
pada umur yang masih muda, 45 tahun, karena ia dilahirkan pada tahun
1646. Ketika berangkat ke Aceh ia berumur 15 tahun dan masa belajar di
Aceh selama 10 tahun, kegiatan dakwah berlangsung selama 20 tahun.
Di kiri kanan makam Syeh Burhanuddin terdapat makam penggantinya yang
disebut khalifah bernama Abdur Rahman dan khatib pertama nagari Ulakan,
Idris Majolelo. Ketiga makam ini terletak di bawah bangunan empat
persegi 2,5 x 2,5 m. Bangunan ini seolah-oleh sebuah masjid kecil yang
mempunyai sebuah kubah berdinding teralis besi. Pada loteng tergantung
tirai-tirai, hadiah dari para peziarah Setiap datang rombongan baru
tirai itupun diganti.
Pengganti-pengganti Syeh Burhanuddin adalah Tuanku-tuanku yang menjadi
khalifah, mulai dari Abdur Rahman, Mukhsin sampai khalifah ke-16, Tuanku
Mudo. Di halaman bangunan berkubah terdapat beberapa makam para
pengikutnya, khalifah-khalifah atau pewarisnya. Kebanyakan telah rata
dengan tanah. Sebagai pertanda bahwa semuanya itu makam ialah adanya
batu nisan terbuat dari batu alam berbentuk persegi panjang. Di bagian
muka makam terdapat sepuluh lokan besar 20 x 30 m tersusun di sebelah
kiri kanan jalan yang menghubungkan makam dengan bangunan 100 x 80 cm.
Lokasi bangunan ini dipagar dengan tembok lebih kurang 1 m. Luas areal
yang terpagar adalah 8 x 7.5 m. Di luar pagar terdapat pula makam-makam
yang banyak, yang dipagar dengan tembok tinggi 1,5 m dan luasnya 8,5 x
12,5 m. Di luar pagar ini baru terdapat halaman yang luas dikelilingi
oleh kira-kira 200 buah surau dan di tengahnya terletak sebuah masjid.
Surau-surau ini merupakan perwakilan dari daerah atau nagari di Sumatra
Barat yang juga berfungsi sebagai tempat menginap para peziarah.
Makam Syeh Burhanuddin dan makam lainnya, sangatlah sederhana, ditandai
oleh dua buah nisan dari batu andesit dengan pengerjaan sederhana tanpa
variasi yang penting sebagai monumen sejarah. Surau Syeh Burhanuddin
terletak di desa Tanjung Medan, 6 km dari makam Ulakan. Lokasi surau
agak masuk ke dalam dari jalan raya melalui jalan tanah yang cukup baik.
Surau terletak di atas tanah yang datar dengan halaman yang luas.
Tanah lokasi surau Syeh Burhanuddin adalah tanah yang dihadiahkan oleh
Raja Ulakan bergelar Mangkuto Alam kepada Idris Majolelo atas jasanya
semasa Syeh Burhanuddin belajar di Aceh. Surau, semacam pesantren, ialah
bangunan tempat mengaji dan belajar ilmu agama Islam.
Syeh Burhanuddin seorang ulama dan mubaligh, maka Surau Syeh Burhanuddin terdiri dari dua bangunan, yaitu:
1) Bangunan serambi berdenah segi empat panjang sebagai bangunan
tambahan yang dibuat kemudian. Bangunan ini beratap gonjong dan
berfungsi sebagai entrance hall dan keseluruhan bangunan itu terbuka.
Lantainya beralaskan plesteran semen dan bukan beralaskan papan sebagai
halnya rumah gadang.
Bangunan berdenah segi empat bujur sangkar yang terletak di belakang
serambi. Pada prinsipnya bangunan ini dengan struktur konstruksi joglo,
sebagaimana masjid kuno di Jawa, di antaranya masjid Demak. Namun sesuai
dengan keadaan dan kebiasaan orang Minangkabau, bangunan ini dengan
struktur berkolong (loteng dan panggung). Dengan struktur bangunan joglo
ini, dalam surau terdapat empat tiang utama dikelilingi dua deretan
anak tiang. Pada deretan pertama berjumlah 12 tiang dan pada deretan
kedua 20 anak tiang. Dengan empat tiang utama atau tiang panjang (soko
guru, Jawa) di tengah dengan dua deretan anak tiang disekelilingnya,
maka struktur bangunan ini dengan atap bersusun tiga, dinding ruangan
melekat pada deretan anak tiang kedua ( 20 tiang). Tiang sesamanya
dihubungkan dengan kayu yang disambung dengan rotan yang disimpai.
2) Atap surau Syeh Burhanuddin ada persamaannya dengan beberapa surau
lainnya di Minangkabau, di antaranya surau Koto Nan Ampek di Payakumbuh
dan surau Lima Kaum di Tanah Datar. Masih terlihat perkembangan
arsiterktur konstruksi atap tumpang dengan bentuk berpuncak dengan
hiasan mahkota, sama dengan masjid Demak yang dibangun dalam abad ke-16.
3) Arsitektur surau Syeh Burhanuddin masih mempunyai persamaan dengan
masjid di Kota Waringin lama di Kalimantan yang dibangun sekitar abad
ke-17. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai prototip masjid Demak.
Dengan perbandingan tersebut, arsitektur surau Syeh Burhanuddin
pembangunannya dalam abad ke-17. Hal ini diperkuat dengan mihrab tanpa
atap tersendiri sebagaimana masjid Demak. Berbeda dengan mihrab masjid
lainnya di Minangkabau yang selalu dengan atap tersendiri.
4) Bahan bangunan Syeh Burhanuddin seluruhnya dari kayu, baik tiang
maupun konstruksi atap dan dinding. Atapnya dulu terdiri dari ijuk yang
kemudian diganti dengan atap seng pada tahun 1920. Struktur bangunan
surau dikerjakan dengan kayu yang sederhana tanpa pengerjaan yang
sempurna menurut ukuran sekarang. Masih terlihat bentuk asli kayu dengan
lengkung-lengannya. Hal ini menunjukkan, bagaimana pekerjaan bangunan
masa itu. Tiang utama terdiri dari kayu seutuhnya dengan sedikit dikerja
mengambil bentuk segi-8, dan hubungan antara tiang dengan kayu lainnya
diikat dengan rotan tanpa paku. Artinya bangunan ini tidak mempergunakan
paku kayu.
5) Tiang-tiang terletak di atas sandi dari batu umpak seutuhnya yang
terletak di atas tanah yang ditinggikan. Pada beberapa bagian ada
perbaikan yang sifatnya mencegah kerusakan, namun masih nampak
keasliannya. Bangunan surau Syeh Burhanuddin belum pernah mengalami
perubahan, selain penambahan serambi.
Sabtu, 08 November 2014
SEJARAH TABUIK PARIAMAN
Setiap memasuki bulan Muharam atau tahun baru Hijriyah, masyarakat Kota Pariaman menggelar perayaan tabuik.Perayaan membuat dan membuang ke laut keranda yang dihiasmenyerupai buraq (sejenis burung yang membawa Nabi Muhammad SAWdalam perjalanan Isra’ Mikraj).Tabuik merupakan tradisi turun temurun masyarakat kotaPariaman.
Festival Tabuik adalah perayaan memperingati Hari Asyura (10 Muharam) yaitu mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Sayyidina Hassan bin Ali yang wafat diracun serta Sayyidina Husein bin Ali yang gugur dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada 10 Muharam 61 Hijrah (681 Masehi).
Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, kepala Imam Husein dipenggal oleh tentara Muawiyah. Kematian Imam Husein diratapi oleh kaum Muslim terutama Muslim Syiah di Timur Tengah dengan cara menyakiti tubuh mereka sendiri. Tradisi mengenang kematian cucu Rasulullah tersebut menyebar ke sejumlah negara dengan cara yang berbeda-beda.
Di Indonesia, selain di Pariaman, ritual mengenang peristiwa tersebut juga diadakan di Bengkulu. Dalam perayaan memperingati wafatnya Husein bin Ali, tabuik melambangkan janji Muawiyah untuk menyerahkan tongkat kekhalifahan kepada umat Islam setelah Imam Husain meninggal. Namun, janji itu ternyata dilanggar dan malah mengangkat Jazid yaitu anaknya sebagai putera mahkota.
Awalnya Tabuik sebagai simbol ritual bagi pengikut Syi’ah untuk mengumpulkan potongan-potongan tubuh Imam Husein dan selama ritual itu para peserta berteriak “Hayya Husein, hayya Husein” atau yang berarti “Hidup Husein, hidup Husein”. Akan tetapi, di Pariaman teriakan tersebut telah berganti dimana para pengusung dan peserta Tabuik akan berteriak “Hoyak Hussein, hoyak Hussein” sambil menggoyang-goyangkan Tabuik yang berbentuk menara dan bersayap.
Festival Tabuik masuk kalender acara wisata Sumatra Barat dan kalender acara wisata nasional.Puluhan ribu orang dari pelosok Sumatra Barat dan perantau datang ke Pariaman hanya ingin melihat Festival Tabuik selama 14 hari.Upacara tabuik dapat dihadiri hingga sekitar 6.000 orang per hari dan bisa mencapai 90.000 orang saat puncak acara.
Dalam perayaan ini masyarakat menyaksikan dua buah tabuik atau keranda setinggi 13 hingga 15 meter yang masing-masing diangkat oleh 20 lelaki. Mereka menggoyang-goyang, memutar-mutar, dan mengarak tabuik dari pusat kota menuju pantai. Lalu, pemain gendang tasa menepuk irama, mengiringi setiap liukan tabuik, dentamnya membangkitkan semangat.Di antara irama gendang terselip teriakan keras “Hoyak Hussein”.
Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya menyerupai binatang berbadan kuda dan berkepala manusia dengan posisi tegap dan memiliki sayap. Dalam kepercayaan Islam, Tabuik sebagai gambaran dari Buraq yang dipercaya sebagai kendaraan Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.Kedua Tabuik tersebut diarak menuju pantai setempat untuk di “serahkan” ke laut.Saat matahari terbenam arak-arakan pun berakhir.Kedua Tabuikdibawa ke pantai yang selanjutnya dibuang kelaut. Hal ini dipercaya sebagai ritual buang sial .
Tabuik yang sudah menjadi tradisi tahunan ini, tidak hanya memperkenalkan kebudayaan tetapi juga meningkatkan jumlah wisatawan yang datang dari dalam maupun luar kota, tradisi tabuik ini juga di selenggarakan di kota lain seperti Bengkulu.
Pembuatan Tabuik
Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan kelompok Subarang.Kelompok Tabuik Pasar terdiri dari gabungan 12 desa yang ada di Kota Pariaman, sementara Kelompok Tabuik Subarang terdari dari gabungan 14 desa lainnya.Dahulu, selama berlangsungnya pesta tabuik selalu diikuti dengan perkelahian antara warga dari daerah Pasar dan Subarang.Tabuik dibuat secara bersama-sama dan melibatkan tokoh masyarakat.
Tabuik yang dibuat oleh kedua tempat ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian atas dan bawah yang tingginya dapat mencapai 15 meter.Bagian atas mewakili keranda berbentuk menara yang dihiasi dengan bunga dan kain beludru berwarna-warni. Sedangkan bagian bawah berbentuk tubuh kuda, bersayap, berekor dan berkepala manusia berambut panjang. Kuda itu dibuat dari rotan dan bambu dengan dilapisi kain beludru halus warna hitam dan pada empat kakinya terdapat gambar kalajengking menghadap ke atas. Kuda tersebut adalah simbol Buraq, kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat dan digunakan saat Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW. Buraq dipercaya membawa Imam Hussein ke langit. Kendaraan yang disimbolkan dengan wujud kuda gemuk berkepala wanita cantik menjadi bagian utama bangunan Tabuik.
Bagian tengah Tabuik berbentuk gapura yang ukurannya makin ke atas makin besar. Pada gapura itu ditempelkan motif ukiran khas Minangkabau. Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan bungo salapan atau delapan bunga berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik.Puncak Tabuik dihiasi payung besar yang dibalut kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran. Di atas payung ditancapkan patung burung merpati putih. Kaki Tabuik terdiri dari empat kayu balok bersilang dengan panjang sekitar 20 meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan menghoyak Tabuik yang dilakukan sekitar seratus orang dewasa.
Membuat Daraga
Beberapa hari sebelum prosesi tabuik dimulai, terlebih dahulu masing-masing rumah tabuik mendirikan sebuah tempat yang dilingkari dengan bahan alami (pimpiang) empat persegi dan didalamnya diberi tanda sebagai kiasan bercorak makam yang dinamakan dengan”daraga”.Fungsi dari daraga adalah sebagai pusat dan tempat alat ritual, dan tempat pelaksanaan maatam.
1. Mengambil tanah (tanggal 1 muharram)
Aktivitas pengambilan tanah dilakukan pada petang hari tanggal 1 muharam,dilakukan dengansuatu arak-arakan yang dimeriahkan dengan gendang tasa.Mengambil tanah dilaksanakan oleh dua kelompok tabuik yaitu kelompok Tabuik Pasar dan Tabuik Subarang”.Masing-masing kelompok mengambil tanah pada tempat (anak sungai) yang berbeda dan berlawanan arah. Tabuik Pasar di Desa Pauh, sedangkan Tabuik Subarang di Alai-Gelombang yang berjarak ±600 meter dari daraga (rumah tabuik).Pengambilan tanah dilakukan oleh seorang laki-laki dengan berpakaian jubah putih melambangkan kejujuran Husein.Tanah tersebut diusung ke daraga sebagai simbol kuburan Husein.
2. Menebang batang pisang (tanggal 5 muharram)
Menebang batang pisang adalah cerminan dari ketajaman pedang yang digunakan dalam perang. Sebagai simbol menuntut balas atas kematian Husein, ini dilakukan oleh seorang pria dengan berpakaian silat. Batang pisang ditebang putus sekali pancung.
3. Peristiwa maatam (tanggal 7 muharam)
Prosesi maatam dilaksanakan setelah shalat dzuhur oleh orang(keluarga) penghuni rumah tabuik.Secara beriringan mereka berjalan mengelilingi daraga sambil membawa peralatan ritual tabuik (jari-jari,sorban,pedang Husein, dll) sambil menangis meratap-ratap.Hal ini sebagai pertanda kesedihan yang dalam atas kematian Husein, sedangkan daraga adalah hakekat dari kuburan Husein.
4. Maarak jari-jari (tanggal 7 muharam)
Maarak panja merupakan kegiatan membawa tiruan jari-jari tangan Hosein yang tercincang, untuk diinformasikan kepada khalayak ramai bukti kekejaman raja zalim.Peristiwa tersebut dimeriahkan dengan “hoyak tabuik lenong” yaitu sebuah tabuik berukuran kecil yang diletakkan diatas kepala seorang laki-laki sambil diiringi bunyi gandang tasa.
5. Maarak saroban (petang tanggal 8 muharam)
Peristiwa maarak saroban bertujuan untuk menginformasikan kepada anggota masyarakat akan halnya penutup kepala (sorban) Husein yang terbunuh dalam perang Karbala. Hampir serupa dengan peristiwa maarak panja, bahwa kegiatan ini juga diiringi dengan membawa miniature tabuik lenong serta diiringi gemuruh bunyi gendang tasa sambil sorak sorai.
6. Tabuik naik pangkat (dini hari tanggal 10 muharam)
Pada dini hari menjelang fajar, dua bagian tabuik yang telah siap dibagun mulai disatukan menjadi tabuik utuh.Peristiwa ini dinamakan dengan tabuik naik pangkat, selajutnya seiring matahari terbit, tabuik diusung ke arena (jalan) dan ditampilkan dan hoyak sepanjang hari tanggal 10 muharam.
7. Pesta hoyak tabuik (tanggal 10 muharam)
Sepanjang hari tanggal 10 muharam mulai pada pukul 09.00 wib ,duatabuik yaitutabuik pasar dan tabuik subarang disuguhkan ketengah pengunjung pesta hoyak tabuik sebagai hakekat peristiwa perang karbala dalam islam. Acara hoyak tabuik akan berlangsung hingga sore hari secara lambat laun tabuik diusung menuju pinggir pantai seiring turunnya matahari.
8. Tabuik dibuang kelaut(petang tanggal 10 muharam)
Menjelang sore,dimulai penyatuan Tabuik Pasar dan Tabuik Subarang (tabuik naik pangkat), kedua tabuik itu diarak keliling Kota Pariaman.Masing-masing tabuik dibawa oleh delapan orang pria.Menjelang senja tatkala sunsetmemancarkan sinar merah tembaga, akhirnya kedua tabuik dipertemukan kembali di Pantai Gondoriah.
Pertemuan kedua tabuik di Pantai Gondariah ini merupakan acara puncak dari upacara tabuik, karena tidak lama setelah itu keduanya akan diadukan (sebagaimana layaknya perang di Karbala). Menjelang matahari terbenam kedua tabuik dibuang ke laut yaitu Pantai Gondoriah.
Prosesi pembuangan tabuik ke laut merupakan suatu bentuk kesepakatan masyarakat untuk membuang segenap sengketa dan perselisihan antar mereka.Selain itu, pembuangan tabuik juga melambangkan terbangnya buraq yang membawa jasad Husein ke Surga.p
Festival Tabuik adalah perayaan memperingati Hari Asyura (10 Muharam) yaitu mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Sayyidina Hassan bin Ali yang wafat diracun serta Sayyidina Husein bin Ali yang gugur dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada 10 Muharam 61 Hijrah (681 Masehi).
Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, kepala Imam Husein dipenggal oleh tentara Muawiyah. Kematian Imam Husein diratapi oleh kaum Muslim terutama Muslim Syiah di Timur Tengah dengan cara menyakiti tubuh mereka sendiri. Tradisi mengenang kematian cucu Rasulullah tersebut menyebar ke sejumlah negara dengan cara yang berbeda-beda.
Di Indonesia, selain di Pariaman, ritual mengenang peristiwa tersebut juga diadakan di Bengkulu. Dalam perayaan memperingati wafatnya Husein bin Ali, tabuik melambangkan janji Muawiyah untuk menyerahkan tongkat kekhalifahan kepada umat Islam setelah Imam Husain meninggal. Namun, janji itu ternyata dilanggar dan malah mengangkat Jazid yaitu anaknya sebagai putera mahkota.
Awalnya Tabuik sebagai simbol ritual bagi pengikut Syi’ah untuk mengumpulkan potongan-potongan tubuh Imam Husein dan selama ritual itu para peserta berteriak “Hayya Husein, hayya Husein” atau yang berarti “Hidup Husein, hidup Husein”. Akan tetapi, di Pariaman teriakan tersebut telah berganti dimana para pengusung dan peserta Tabuik akan berteriak “Hoyak Hussein, hoyak Hussein” sambil menggoyang-goyangkan Tabuik yang berbentuk menara dan bersayap.
Festival Tabuik masuk kalender acara wisata Sumatra Barat dan kalender acara wisata nasional.Puluhan ribu orang dari pelosok Sumatra Barat dan perantau datang ke Pariaman hanya ingin melihat Festival Tabuik selama 14 hari.Upacara tabuik dapat dihadiri hingga sekitar 6.000 orang per hari dan bisa mencapai 90.000 orang saat puncak acara.
Dalam perayaan ini masyarakat menyaksikan dua buah tabuik atau keranda setinggi 13 hingga 15 meter yang masing-masing diangkat oleh 20 lelaki. Mereka menggoyang-goyang, memutar-mutar, dan mengarak tabuik dari pusat kota menuju pantai. Lalu, pemain gendang tasa menepuk irama, mengiringi setiap liukan tabuik, dentamnya membangkitkan semangat.Di antara irama gendang terselip teriakan keras “Hoyak Hussein”.
Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya menyerupai binatang berbadan kuda dan berkepala manusia dengan posisi tegap dan memiliki sayap. Dalam kepercayaan Islam, Tabuik sebagai gambaran dari Buraq yang dipercaya sebagai kendaraan Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.Kedua Tabuik tersebut diarak menuju pantai setempat untuk di “serahkan” ke laut.Saat matahari terbenam arak-arakan pun berakhir.Kedua Tabuikdibawa ke pantai yang selanjutnya dibuang kelaut. Hal ini dipercaya sebagai ritual buang sial .
Tabuik yang sudah menjadi tradisi tahunan ini, tidak hanya memperkenalkan kebudayaan tetapi juga meningkatkan jumlah wisatawan yang datang dari dalam maupun luar kota, tradisi tabuik ini juga di selenggarakan di kota lain seperti Bengkulu.
Pembuatan Tabuik
Tabuik dibuat oleh dua kelompok masyarakat Pariaman, yakni kelompok Pasar dan kelompok Subarang.Kelompok Tabuik Pasar terdiri dari gabungan 12 desa yang ada di Kota Pariaman, sementara Kelompok Tabuik Subarang terdari dari gabungan 14 desa lainnya.Dahulu, selama berlangsungnya pesta tabuik selalu diikuti dengan perkelahian antara warga dari daerah Pasar dan Subarang.Tabuik dibuat secara bersama-sama dan melibatkan tokoh masyarakat.
Tabuik yang dibuat oleh kedua tempat ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian atas dan bawah yang tingginya dapat mencapai 15 meter.Bagian atas mewakili keranda berbentuk menara yang dihiasi dengan bunga dan kain beludru berwarna-warni. Sedangkan bagian bawah berbentuk tubuh kuda, bersayap, berekor dan berkepala manusia berambut panjang. Kuda itu dibuat dari rotan dan bambu dengan dilapisi kain beludru halus warna hitam dan pada empat kakinya terdapat gambar kalajengking menghadap ke atas. Kuda tersebut adalah simbol Buraq, kendaraan yang memiliki kemampuan terbang secepat kilat dan digunakan saat Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW. Buraq dipercaya membawa Imam Hussein ke langit. Kendaraan yang disimbolkan dengan wujud kuda gemuk berkepala wanita cantik menjadi bagian utama bangunan Tabuik.
Bagian tengah Tabuik berbentuk gapura yang ukurannya makin ke atas makin besar. Pada gapura itu ditempelkan motif ukiran khas Minangkabau. Di bagian bawah dan atas gapura ditancapkan bungo salapan atau delapan bunga berbentuk payung dengan dasar kertas warna bermotif ukiran atau batik.Puncak Tabuik dihiasi payung besar yang dibalut kain beludru dan kertas hias yang juga bermotif ukiran. Di atas payung ditancapkan patung burung merpati putih. Kaki Tabuik terdiri dari empat kayu balok bersilang dengan panjang sekitar 20 meter. Balok-balok itu digunakan untuk menggotong dan menghoyak Tabuik yang dilakukan sekitar seratus orang dewasa.
Membuat Daraga
Beberapa hari sebelum prosesi tabuik dimulai, terlebih dahulu masing-masing rumah tabuik mendirikan sebuah tempat yang dilingkari dengan bahan alami (pimpiang) empat persegi dan didalamnya diberi tanda sebagai kiasan bercorak makam yang dinamakan dengan”daraga”.Fungsi dari daraga adalah sebagai pusat dan tempat alat ritual, dan tempat pelaksanaan maatam.
1. Mengambil tanah (tanggal 1 muharram)
Aktivitas pengambilan tanah dilakukan pada petang hari tanggal 1 muharam,dilakukan dengansuatu arak-arakan yang dimeriahkan dengan gendang tasa.Mengambil tanah dilaksanakan oleh dua kelompok tabuik yaitu kelompok Tabuik Pasar dan Tabuik Subarang”.Masing-masing kelompok mengambil tanah pada tempat (anak sungai) yang berbeda dan berlawanan arah. Tabuik Pasar di Desa Pauh, sedangkan Tabuik Subarang di Alai-Gelombang yang berjarak ±600 meter dari daraga (rumah tabuik).Pengambilan tanah dilakukan oleh seorang laki-laki dengan berpakaian jubah putih melambangkan kejujuran Husein.Tanah tersebut diusung ke daraga sebagai simbol kuburan Husein.
2. Menebang batang pisang (tanggal 5 muharram)
Menebang batang pisang adalah cerminan dari ketajaman pedang yang digunakan dalam perang. Sebagai simbol menuntut balas atas kematian Husein, ini dilakukan oleh seorang pria dengan berpakaian silat. Batang pisang ditebang putus sekali pancung.
3. Peristiwa maatam (tanggal 7 muharam)
Prosesi maatam dilaksanakan setelah shalat dzuhur oleh orang(keluarga) penghuni rumah tabuik.Secara beriringan mereka berjalan mengelilingi daraga sambil membawa peralatan ritual tabuik (jari-jari,sorban,pedang Husein, dll) sambil menangis meratap-ratap.Hal ini sebagai pertanda kesedihan yang dalam atas kematian Husein, sedangkan daraga adalah hakekat dari kuburan Husein.
4. Maarak jari-jari (tanggal 7 muharam)
Maarak panja merupakan kegiatan membawa tiruan jari-jari tangan Hosein yang tercincang, untuk diinformasikan kepada khalayak ramai bukti kekejaman raja zalim.Peristiwa tersebut dimeriahkan dengan “hoyak tabuik lenong” yaitu sebuah tabuik berukuran kecil yang diletakkan diatas kepala seorang laki-laki sambil diiringi bunyi gandang tasa.
5. Maarak saroban (petang tanggal 8 muharam)
Peristiwa maarak saroban bertujuan untuk menginformasikan kepada anggota masyarakat akan halnya penutup kepala (sorban) Husein yang terbunuh dalam perang Karbala. Hampir serupa dengan peristiwa maarak panja, bahwa kegiatan ini juga diiringi dengan membawa miniature tabuik lenong serta diiringi gemuruh bunyi gendang tasa sambil sorak sorai.
6. Tabuik naik pangkat (dini hari tanggal 10 muharam)
Pada dini hari menjelang fajar, dua bagian tabuik yang telah siap dibagun mulai disatukan menjadi tabuik utuh.Peristiwa ini dinamakan dengan tabuik naik pangkat, selajutnya seiring matahari terbit, tabuik diusung ke arena (jalan) dan ditampilkan dan hoyak sepanjang hari tanggal 10 muharam.
7. Pesta hoyak tabuik (tanggal 10 muharam)
Sepanjang hari tanggal 10 muharam mulai pada pukul 09.00 wib ,duatabuik yaitutabuik pasar dan tabuik subarang disuguhkan ketengah pengunjung pesta hoyak tabuik sebagai hakekat peristiwa perang karbala dalam islam. Acara hoyak tabuik akan berlangsung hingga sore hari secara lambat laun tabuik diusung menuju pinggir pantai seiring turunnya matahari.
8. Tabuik dibuang kelaut(petang tanggal 10 muharam)
Menjelang sore,dimulai penyatuan Tabuik Pasar dan Tabuik Subarang (tabuik naik pangkat), kedua tabuik itu diarak keliling Kota Pariaman.Masing-masing tabuik dibawa oleh delapan orang pria.Menjelang senja tatkala sunsetmemancarkan sinar merah tembaga, akhirnya kedua tabuik dipertemukan kembali di Pantai Gondoriah.
Pertemuan kedua tabuik di Pantai Gondariah ini merupakan acara puncak dari upacara tabuik, karena tidak lama setelah itu keduanya akan diadukan (sebagaimana layaknya perang di Karbala). Menjelang matahari terbenam kedua tabuik dibuang ke laut yaitu Pantai Gondoriah.
Prosesi pembuangan tabuik ke laut merupakan suatu bentuk kesepakatan masyarakat untuk membuang segenap sengketa dan perselisihan antar mereka.Selain itu, pembuangan tabuik juga melambangkan terbangnya buraq yang membawa jasad Husein ke Surga.p
PEPATAH PETITIH MINANG KABAU
SEKAPUR SIRIH
Disusun jari nan sapuluah, ditakuakan kapalo nan satu dihujamkan lutuik nan duo. Kapado ALLAH Ampun dimintak, sambah dianta dipuhunkan, kapado Panghulu Pamangku Adat, bilo maulana jo tuanku, Nan manjunjuang soko dalam adat, sarato imam dengan khatib. Nan mudo pambimbiang dunia Bundo kanduang samo didalam.
Ujuik kato buah rundiagan, sakiro paham dikahandaki bahubuang jo maso nan ditampuah, musim nan tumbuah iko kini, syariat ado bahakikat, lahia kulik manganduang isi. Dilua nan tampak nyato, didalam kanduangan ulemu, tiliak nyato paham mamanjek, dijauah hari simpanan kito. Kalau dipiliah jo ihktiar, jikok aka dijalankan, jo tanang budi marangkak, kateh nyato taambun jantan, kabawah jaleh takasiak bulan.
Sampai tabagi dek ulemu, lahia manjadi buah ama, dek enggeran soko nan tatagak, Malangkah diujuang padang, basilek dipangka karieh, kato salalu baumpamo, rundiang nan banyak bakiasan. Dalam kulik pandanglah isi, dinan lahia bathin tabayang. Kulik manieh ditimpo bathin, bathin ditimpo galo-galo, dalam lahia manganduang bathin, dalam bathin bahakikat pulo.
Rumah gadang bari bapintu, nak tarang jalan kahalaman, jokok dikumpa saleba kuku, kalau dikambang saleba alam, Talago adat nan indak kariang, sapayah payah manimbo, walau dalam musim kamarau, mailia taruih aia nan janiah . Latiak latiak tabang ka pinang, jatuah kapangka salironyo aia satitiak dalam pinang, sinan bamain ikan rayo.
Didorong dek kandak bana, dielo dek cinto hati, mangingek papatah dalam adat, bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun, ratak sabuah jadi tuah. Jokok dibukak pusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam , lah banyak ragi nan barubah. Seni budaya tanah aia, lapuak dizaman panjajahan, kinilah jadi buah pikia, sadang didalam panggalian. Lapuak lapuak dikanjangi, usang usang dibarui. Mamandang gujalo zaman, edaran maso putaran zaman , lah lanyap zaman panjajahan, lah patuik disalam nan tabanam.
Ambo nan bukan cadiak pandai, ulemu di TUHAN tasimpannyo, kok senteng tolonglah bilai, tandonyo kito sa-undiko. Ampun sagalo niniak mamak, nan gadang basa batuah, kok tasalah maaf pabanyak, nan Qadim hanyo sifat ALLAH.
PENDAHULUAN
Dengan nama ALLAH Swt. Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, serta Taufiq dan Hidayah – NYA, telah mengerakan hati saya untuk menyusun buku kecil ini dengan menghimpun 1000 buah pepatah-petitih, mamang, bidal pantun dan gurindam Minang Kabau.
Hal ini didorong oleh rasa cinta kepada Kebudayaan/Adat Minang Kabau yang merupakan ke-Bhinnekaan dari Kebudayaan Nasional Indonesia, serta menyadari bahwa Adat Minang Kabau adalah merupakan pengetahuan yang mengandung arti dan ajaran yang mencangkupi setiap aspek kehidupan dalam masyarakat adalah tersimpan dalam bentuk pepatah-petitih, mamang, bidal pantun dan gurindam.
Dalam pepatah-ptitih, mamang, bidal pantun dan gurindam itulah tersimpan mutiara-mutiara dan kaedah-kaedah yang tinggi nilainya untuk kepentingan hidup bergaul dalam masyarakat. Diaman kalimat demi kalimat yang disusun, diucapkan dengan kata-kata kiasan ( indirek ), yang juga merupakan kesukaran untuk memahami arti dan tujuannya tanpa membaca arti yang tersirat didalamnya.
1000 buah pepatah-petitih yang kita himpun ini adalah sebahagian kecil dari 500.000 pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun di Minang Kabau, yang pernah dipelajari oleh seorang pelancong dari negri Cina yang namanya ITSING 455 th. SM, yang datang ke negri Saruaso dan Pariangan Padang Panjang sekarang (Keterang Alm. Dt Batuah tj,. Barulak Batusangkar dan Dt Tumbijo Dirajo Batipuah)
Semoga usaha saya ini akan mengetuk hati putra Minangkabau (Sumbar) untuk mengali dan menghimpun 499.000 lagi dari pepatah-petitih Minang Kabau yang sekarang masih tersimpan dalam Tambo Adat Minamg Kabau atau para ahli Adatnya. Dan kemudian dapat disumbangkan dalam membangun dan memperkaya Kebudayaan Nasional Indonesia yang kita cintai.
Saya mengaharapkan perbaikan disana sini kalau kiranya ditemui kekhilafan dalam mengartikannya, begitupun dalam menyusun kalimat demi kalimat, dan kemudian kepada ALLAH yang Alim jua saya berserah diri.
Penyusun, Idrus Hakimy Dt Rajo Panghulu
Bismillahirrahmanirrahim
Pepatah Petitih Minangkabau 001 – 100
Pepatah Petitih Minangkabau 101 – 200
Pepatah Petitih Minangkabau 201 – 300
Pepatah Petitih Minangkabau 301 – 400
Pepatah Petitih Minangkabau 401 – 500
Pepatah Petitih Minangkabau 501 – 600
Disusun jari nan sapuluah, ditakuakan kapalo nan satu dihujamkan lutuik nan duo. Kapado ALLAH Ampun dimintak, sambah dianta dipuhunkan, kapado Panghulu Pamangku Adat, bilo maulana jo tuanku, Nan manjunjuang soko dalam adat, sarato imam dengan khatib. Nan mudo pambimbiang dunia Bundo kanduang samo didalam.
Ujuik kato buah rundiagan, sakiro paham dikahandaki bahubuang jo maso nan ditampuah, musim nan tumbuah iko kini, syariat ado bahakikat, lahia kulik manganduang isi. Dilua nan tampak nyato, didalam kanduangan ulemu, tiliak nyato paham mamanjek, dijauah hari simpanan kito. Kalau dipiliah jo ihktiar, jikok aka dijalankan, jo tanang budi marangkak, kateh nyato taambun jantan, kabawah jaleh takasiak bulan.
Sampai tabagi dek ulemu, lahia manjadi buah ama, dek enggeran soko nan tatagak, Malangkah diujuang padang, basilek dipangka karieh, kato salalu baumpamo, rundiang nan banyak bakiasan. Dalam kulik pandanglah isi, dinan lahia bathin tabayang. Kulik manieh ditimpo bathin, bathin ditimpo galo-galo, dalam lahia manganduang bathin, dalam bathin bahakikat pulo.
Rumah gadang bari bapintu, nak tarang jalan kahalaman, jokok dikumpa saleba kuku, kalau dikambang saleba alam, Talago adat nan indak kariang, sapayah payah manimbo, walau dalam musim kamarau, mailia taruih aia nan janiah . Latiak latiak tabang ka pinang, jatuah kapangka salironyo aia satitiak dalam pinang, sinan bamain ikan rayo.
Didorong dek kandak bana, dielo dek cinto hati, mangingek papatah dalam adat, bakarih sikati muno, patah lai basimpai alun, ratak sabuah jadi tuah. Jokok dibukak pusako lamo, dibangkik tareh nan tarandam , lah banyak ragi nan barubah. Seni budaya tanah aia, lapuak dizaman panjajahan, kinilah jadi buah pikia, sadang didalam panggalian. Lapuak lapuak dikanjangi, usang usang dibarui. Mamandang gujalo zaman, edaran maso putaran zaman , lah lanyap zaman panjajahan, lah patuik disalam nan tabanam.
Ambo nan bukan cadiak pandai, ulemu di TUHAN tasimpannyo, kok senteng tolonglah bilai, tandonyo kito sa-undiko. Ampun sagalo niniak mamak, nan gadang basa batuah, kok tasalah maaf pabanyak, nan Qadim hanyo sifat ALLAH.
PENDAHULUAN
Dengan nama ALLAH Swt. Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang, serta Taufiq dan Hidayah – NYA, telah mengerakan hati saya untuk menyusun buku kecil ini dengan menghimpun 1000 buah pepatah-petitih, mamang, bidal pantun dan gurindam Minang Kabau.
Hal ini didorong oleh rasa cinta kepada Kebudayaan/Adat Minang Kabau yang merupakan ke-Bhinnekaan dari Kebudayaan Nasional Indonesia, serta menyadari bahwa Adat Minang Kabau adalah merupakan pengetahuan yang mengandung arti dan ajaran yang mencangkupi setiap aspek kehidupan dalam masyarakat adalah tersimpan dalam bentuk pepatah-petitih, mamang, bidal pantun dan gurindam.
Dalam pepatah-ptitih, mamang, bidal pantun dan gurindam itulah tersimpan mutiara-mutiara dan kaedah-kaedah yang tinggi nilainya untuk kepentingan hidup bergaul dalam masyarakat. Diaman kalimat demi kalimat yang disusun, diucapkan dengan kata-kata kiasan ( indirek ), yang juga merupakan kesukaran untuk memahami arti dan tujuannya tanpa membaca arti yang tersirat didalamnya.
1000 buah pepatah-petitih yang kita himpun ini adalah sebahagian kecil dari 500.000 pepatah-petitih, mamang, bidal, pantun di Minang Kabau, yang pernah dipelajari oleh seorang pelancong dari negri Cina yang namanya ITSING 455 th. SM, yang datang ke negri Saruaso dan Pariangan Padang Panjang sekarang (Keterang Alm. Dt Batuah tj,. Barulak Batusangkar dan Dt Tumbijo Dirajo Batipuah)
Semoga usaha saya ini akan mengetuk hati putra Minangkabau (Sumbar) untuk mengali dan menghimpun 499.000 lagi dari pepatah-petitih Minang Kabau yang sekarang masih tersimpan dalam Tambo Adat Minamg Kabau atau para ahli Adatnya. Dan kemudian dapat disumbangkan dalam membangun dan memperkaya Kebudayaan Nasional Indonesia yang kita cintai.
Saya mengaharapkan perbaikan disana sini kalau kiranya ditemui kekhilafan dalam mengartikannya, begitupun dalam menyusun kalimat demi kalimat, dan kemudian kepada ALLAH yang Alim jua saya berserah diri.
Penyusun, Idrus Hakimy Dt Rajo Panghulu
Bismillahirrahmanirrahim
Pepatah Petitih Minangkabau 001 – 100
Pepatah Petitih Minangkabau 101 – 200
Pepatah Petitih Minangkabau 201 – 300
Pepatah Petitih Minangkabau 301 – 400
Pepatah Petitih Minangkabau 401 – 500
Pepatah Petitih Minangkabau 501 – 600
SEJARAH KAKBAH
Selasa, 11 Februari 2014
Kaabah Dan Masjid Nabawi Dalam Bahaya. (Bhg 3) : Apa Yang Ada Didalam Kaabah Sehingga Ia Dirahsiakan..!!!
Artikel re-post ini saya persembahkan kepada seluruh jemaah haji yang saat ini berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji. Di sana anda mengunjungi bangunan Ka'bah, bangunan tersuci umat Islam yang berada di dalam lingkungan Masjidil Haram.
Namun berapa kalipun anda berkunjung/ naik Haji ke sana anda tidak mungkin tahu (tidak diijinkan) seperti apa ruangan dan isi dari bangunan Ka'bah itu. Artikel ini mungkin dapat menjawab keingin tahuan anda dan semoga dapat menyembuhkan kerinduan anda yang belum sempat berkunjung ke sana. Gambar saya ambil dari link sumber di bawahnya, sedangkan artikel saya kutip dari : http://republika.co.id.
Masjidil Haram
Kaabah adalah salah satu bangunan tertua di dunia yang berada di tengah-tengah Masjidil Haram. Ka'bah (bahasa Arab: الكعبة, transliterasi: Ka'bah) adalah sebuah bangunan mendekati bentuk kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di Mekah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi kaum muslim (umat Islam). Merupakan bangunan yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah patokan untuk hal hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia seperti salat. Lokasi Ka'bahsecara astronomis adalah 21°25‘21.2“ Lintang Utara, 039°49‘34.1“ Bujur Timur, Elevasi 304 meter (ASL)
Ka'abah Cutaway
Bangunan Ka'bah mempunyai tingginya sekitar 15 meter, panjang sisi sebelah utara 9.92 meter, sisi sebelah barat 12.15 meter, sisi sebelah selatan 25.10 meter, dan sisi sebelah timur 11.88 meter.
Pintu Ka'bah di sisi sebelah timur dengan tinggi sekitar 2 meter dari tanah, terbuat dari emas murni dan bertuliskan ayat-ayat Alquran. Pada masa pemerintahan Khalid ibn ‘Abd Al Aziz, pintu ini dibuat dari bahan emas.
Sebelumnya, yaitu semenjak kekhalifahan Sultan Sulaiman Al Qanuni (959 H), pintu Ka'bah dibuat dari lempengan perak berlapiskan emas, terutama daun pintu dan gemboknya.
Bagian-bagian Luar Kaabah
1 - The Black Stone; 2 - Door of the Kaaba; 3. Gutter to remove rainwater; 4 - Base of the Kaaba; 5 - Al-Hatim; 6 - Al-Multazam (the wall between the door of the Kaaba and Black Stone); 7 - The Station of Ibrahim; 8 - Corner of the Black Stone; 9 - Corner of Yemen; 10 - Corner of Syria; 11 - Corner of Iraq; 12 - Kiswa (black veil covering the Kaaba); 13 - marble band of marking the beginning and end of rounds; 14 - The Station of Gabriel.
Dinding Ka'bah bagian bawah ditopang dengan tembok kuat yang terbuat dari batu marmer. Tembok itu melingkar mengitari Ka'bah dan disebut Syadzarwan. Tinggi Syadzarwan di bagian utara Ka‘bah mencapai 50 cm dengan lebar 39 cm, di bagian barat mencapai 27 cm dengan lebar 80 cm, di bagian selatan mencapai 24 cm dengan lebar 87 cm, sedangkan di bagian timur mencapai 22 cm dengan lebar 66 cm.
Dikatakan bahwa tembok Syadzarwan adalah bangunan tambahan pada Ka'bah yang dikerjakan oleh kaum Quraisy. Menurut mazhab Syafi'i dan Maliki, tembok Syadzarwan termasuk bagian Ka'bah, sehingga jamaah haji yang bertawaf harus berada di luarnya. Pendapat sebaliknya dikatakan oleh mazhab Hanafi. Menurut mereka, tembok Syadzarwan bukan merupakan bagian Kaabah.
Adapun mazhab Hanbali memilih berada di antara dua pendapat di atas. Menurut mereka, menjauhi tembok itu sangat dianjurkan, tetapi seandainya jamaah melakukan tawaf di dalamnya maka tawafnya tetap sah dan tidak sampai rusak.
Ka'bah telah direkonstruksi hingga 12 kali sejak zaman Nabi (SAW). Rekonstruksi terbaru dan proyek renovasi berlangsung pada tahun 1996. Gambar di bawah menunjukkan pekerja merenovasi dasar Ka'bah.
Yang jelas, belum diketahui secara pasti kapan pertama kali tembok Syadzarwan dibangun. Setiap kali Masjidil Haram dipugar, tempat-tempat di sekitarnya juga dipugar. Yang pasti, tembok Syadzarwan mengalami pemugaran pada tahun 542 H, 636 H 660 H, dan 1010 H.
Sejarah perkembangan Ka'bah.
Kakbah yang juga dinamakan Bayt al `Atiq (Arab:بيت العتيق, Rumah Tua) adalah bangunan yang dipugar pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah Allah SWT. Dalam Al-Qur'an, surah 14:37 tersirat bahwa situs suci Kakbah telah ada sewaktu Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan bayi Ismail di lokasi tersebut.
Ilustrasi Kabah Jaman Nabi Adam
Ilustrasi Kabah Jaman Nabi Ibrahim
Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30 tahun (sekitar 600 M dan belum diangkat menjadi Rasul pada saat itu), bangunan ini direnovasi kembali akibat banjir bandang yang melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat terjadi perselisihan antar kepala suku atau kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu Hajar Aswad pada salah satu sudut Kakbah, namun berkat penyelesaian Muhammad SAW perselisihan itu berhasil diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa ada pihak yang dirugikan.
Pada saat menjelang Muhammad SAW diangkat menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota Madinah, bangunan Kakbah yang semula rumah ibadah agama monotheisme (Tauhid) ajaran Nabi Ibrahim telah berubah menjadi kuil pemujaan bangsa Arab yang di dalamnya diletakkan sekitar 360 berhala/patung yang merupakan perwujudan tuhan-tuhan politheisme bangsa Arab ketika masa kegelapan pemikiran (jahilliyah) padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang merupakan nenek moyang bangsa Arab dan bangsa Yahudi serta ajaran Nabi Musa terhadap kaum Yahudi, Allah Sang Maha Pencipta tidak boleh dipersekutukan dan disembah bersamaan dengan benda atau makhluk apapun jua dan tidak memiliki perantara untuk menyembahNya serta tunggal tidak ada yang menyerupaiNya dan tidak beranak dan tidak diperanakkan (Surah Al-Ikhlas dalam Al-Qur'an). Kakbah akhirnya dibersihkan dari patung-patung agama politheisme ketika Nabi Muhammad membebaskan kota Mekkah tanpa pertumpahan darah dan dikembalikan sebagai rumah ibadah agama Tauhid (Islam).
Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara oleh Bani Sya'ibah sebagai pemegang kunci kakbah dan administrasi serta pelayanan haji diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah, Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan Madinah.
Pada awalnya bangunan Kakbah terdiri atas dua pintu serta letak pintu Kakbah terletak di atas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi. Pada saat Muhammad SAW berusia 30 tahun dan belum diangkat menjadi rasul, dilakukan renovasi pada Kakbah akibat bencana banjir.
Pada saat itu terjadi kekurangan biaya, maka bangunan Kakbah dibuat hanya satu pintu. Adapula bagiannya yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan Kakbah, yang dinamakan Hijir Ismail, yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah satu sisi Kakbah. Saat itu pintunya dibuat tinggi letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang bisa memasukinya, karena suku Quraisy merupakan suku atau kabilah yang dimuliakan oleh bangsa Arab saat itu.
Nabi Muhammad SAW pernah mengurungkan niatnya untuk merenovasi kembali Kakbah karena kaumnya baru saja masuk Islam, sebagaiman tertulis dalam sebuah hadits perkataannya: "Andaikata kaumku bukan baru saja meninggalkan kekafiran, akan aku turunkan pintu Kakbah dan dibuat dua pintunya serta dimasukkan Hijir Ismail ke dalam Kakbah", sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi Ibrahim.
Ketika masa Abdullah bin Zubair memerintah daerah Hijaz, bangunan itu dibangun kembali menurut perkataan Nabi Muhammad SAW, yaitu diatas pondasi Nabi Ibrahim. Namun ketika terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin Marwan penguasa daerah Syam (Suriah, Yordania dan Lebanon sekarang) dan Palestina, terjadi kebakaran pada Kakbah akibat tembakan peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan Syam. Abdul Malik bin Marwan yang kemudian menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali Kakbah berdasarkan bangunan di masa Nabi Muhammad SAW dan bukan berdasarkan pondasi Nabi Ibrahim. Kakbah dalam sejarah selanjutnya beberapa kali mengalami kerusakan sebagai akibat dari peperangan dan karena umur bangunan.
Keadaan Kaabah yang bercirikan Ottomaniah sebelum ianya dihancurkan oleh bani Saud
Sejarah Perkembangan Ka'bah
Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, khalifah berencana untuk merenovasi kembali kakbah sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang diinginkan Nabi Muhammad SAW. namun segera dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar pasang para penguasa sesudah beliau. Sehingga bangunan Kakbah tetap sesuai masa renovasi khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai sekarang.
Isi Bagian Dalam Ka'bah
Tak sembarang orang yang bisa memasuki Ka'bah. Oleh sebab itu, banyak yang bertanya, apa sebenarnya yang ada dalam Ka'bah itu ? Apa benar dalam Ka'bah masih tersimpan berhala-berhala zaman dulu sebagaimana yang dituduhkan kaum perusak Islam?
Sebagaimana yang diperlihatkan dokumenter Kerajaan Arab Saudi, isi dalam Ka'bah hanya berupa ruangan kosong. Bahagian dalam Ka'bah terdapat tiga pilar dari kayu gaharu terbaik. Panjang satu pilar sekitar seperempat meter atau setengah meter berwarna campuran antara merah dan kuning. Ketiga pilar ini berjejer lurus dari utara ke selatan.
Tangga ke bagian atas Ka'bah. Tangga ini terletak di dalam Ka'bah pojok kanan. Tangga ini ada di belakang pintu keemasan, hanya digunakan saat mengganti Kiswah.
Pada awal abad ini (tahun 2000-an), bagian bawah ketiga pilar retak yang kemudian diperbaiki dengan diberi kayu melingkar di sekelilingnya. Ketiga pilar ini dibuat atas inisiatif Abdullah ibn Al Zubair tiga abad yang lalu. Meski demikian, ketiganya masih tetap kokoh hingga saat ini.
Atap dalam Ka'bah penuh dengan ukiran-ukiran mengagumkan, selain diberi lampu-lampu indah yang terbuat dari emas murni dan dari perhiasan-perhiasan indah lainnya. Lantai Ka'bah dibuat dari batu pualam putih.
Dinding Ka'bah bagian dalam dibalut dengan batu pualam warna-warni dan dihiasi dengan ukiran bergaya Arab. Terdapat tujuh papan yang menempel di dinding ini yang bertuliskan nama-nama orang yang pernah merenovasi atau menambahkan sesuatu yang batu di dalam Ka'bah atau Masjidil Haram.
Kisah Pembangunan Ka’bah dan Peletakan Hajar Aswad
Ketika Rasulullah berusia tiga puluh lima tahun, beliau belum diangkat oleh Allah sebagai seorang nabi. Waktu itu kota Makkah dilanda banjir besar yang meluap sampai ke Masjidil Haram. Orang-orang Quraisy menjadi khawatir banjir ini akan dapat meruntuhkan Ka’bah.
Selain itu, bangunan Ka’bah dulunya belumlah beratap. Tingginya pun hanya sembilan hasta. Ini menyebabkan orang begitu mudah untuk memanjatnya dan mencuri barang-barang berharga yang ada di dalamnya.
Oleh karena itu bangsa Quraisy akhirnya sepakat untuk memperbaiki bangunan Ka’bah tersebut dengan terlebih dahulu merobohkannya.
Untuk perbaikan Ka’bah ini, orang-orang Quraisy hanya menggunakan harta yang baik-baik saja. Mereka tidak menerima harta dari hasil melacur, riba dan hasil perampasan.
Di awal-awal perbaikan, pada awalnya mereka masih takut untuk merobohkan Ka’bah. Akhirnya salah seorang dari mereka yang bernama Al-Walid bin Al-Mughirah Al-Makhzumy bangkit mengawali perobohan tersebut. Setelah melihat tidak ada hal buruk yang terjadi pada Al-Walid, orang-orang Quraisy pun mulai ikut merobohkan Ka’bah sampai ke bagian rukun Ibrahim.
Mereka kemudian membagi sudut-sudut Ka’bah dan mengkhususkan setiap kabilah dengan bagian-bagiannya sendiri. Pembangunan kembali Ka’bah ini dipimpin oleh seorang arsitek dari bangsa Romawi yang bernama Baqum.
Rasulullah ikut Membangun
Rasulullah sendiri ikut bersama-sama yang lain membangun kabah. Beliau bergabung bersama paman beliau Abbas radhiyallahu ‘anhu. Ketika beliau mengambil batu-batu, Abbas menyarankan kepada beliau untuk mengangkat jubah beliau hingga di atas lutut. Namun Allah menakdirkan agar aurat beliau senantiasa tertutup, sehingga belum sempat beliau mengangkat jubahnya, beliau jatuh terjerembab ke tanah.
Beliau kemudian memandang ke atas langit sambil berkata, “Ini gara-gara jubahku, ini gara-gara jubahku”. Setelah itu aurat beliau tidaklah pernah terlihat lagi.
Peletakan Hajar Aswad
Sebelum kita lanjutkan kisah ini, tahukah kalian apa itu hajar aswad?
Hajar Aswad adalah sebuah batu yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari surga. Dulu batu itu berwarna putih, namun karena dosa-dosa anak Adam, maka batu itu pun berubah menjadi berwarna hitam.
Nah, ketika pembangunan sudah sampai ke bagian Hajar Aswad, bangsa Quraisy berselisih tentang siapa yang mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya semula. Mereka berselisih sampai empat atau lima hari. Perselisihan ini bahkan hampir menyebabkan pertumpahan darah.
Abu Umayyah bin Al-Mughirah Al-Makhzumi kemudian memberikan saran kepada mereka agar menyerahkan keputusan kepada orang yang pertama kali lewat pintu masjid. Bangsa Quraisy pun menyetujui ide ini.
Allah subhanahu wa ta’ala kemudian menakdirkan bahwa orang yang pertama kali lewat pintu masjid adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang Quraisy pun ridha dengan diri beliau sebagai penentu keputusan dalam permasalahan tersebut.
Rasulullah pun kemudian menyarankan suatu jalan keluar yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka. Bagaimana jalan keluarnya?
Beliau mengambil selembar selendang. Kemudian Hajar Aswad itu diletakkan di tengah-tengan selendang tersebut. Beliau lalu meminta seluruh pemuka kabilah yang berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang itu. Mereka kemudian mengangkat Hajar Aswad itu bersama-sama. Setelah mendekati tempatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam-lah yang kemudian meletakkan Hajar Aswad tersebut.
Ini merupakan jalan keluar yang terbaik. Seluruh kabilah setuju dan meridhai jalan keluar ini. Mereka pun tidak jadi saling menumpahkan darah.
Akhir Pembangunan Ka’bah
Bangsa Quraisy akhirnya kehabisan dana dari penghasilan baik-baik yang mereka kumpulkan. Mereka akhirnya menyisakan bangunan Ka’bah di bagian utara seukuran enam hasta yang kemudian disebut Al-Hijir atau Al-Hathim.
Mereka juga membuat pintu Ka’bah lebih tinggi daripada permukaan tanah. Setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian lima belas hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.
Ka’bah pun selesai dibangun kembali. Tingginya sekarang lima belas meter, panjang sisinya di bagian Hajar Aswad dan sebaliknya adalah sepuluh meter. Hajar aswad sendiri diletakkan satu setengah meter dari lantai. Adapun sisi yang lain panjangnya dua belas
meter. Pintu Ka’bah diletakkan dua meter dari permukaan tanah. (*)
Musafir lalu di 2/11/2014 08:00:00 PG
Kongsi
Langganan:
Postingan (Atom)